Sleman – Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hemas secara resmi membuka Saparan Ki Ageng Wonolelo Ke-55 pada Jumat (26/8/2022) malam. Upacara pembukaan berlangsung di Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo, Pondok Wonolelo, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak.
GKR Hemas dalam sambutannya mengatakan, Saparan dan Kirap Pusaka Ki Ageng Wonolelo merupakan warisan budaya Jogja yang sangat penting.
“Ki Ageng Wonolelo yang nama aslinya Ki Jumadi Geno merupakan keturunan Prabu Brawijaya V yang sangat berjasa terhadap Kerajaan Mataram, beliau bisa memastikan bahwa Sriwijaya tetap bagian dari Mataram. Pada saat itu, lanjut GKR Hemas, beliau diutus ke Sumatra untuk melihat Sriwijaya di Palembang yang kelihatanya akan melepaskan diri dari Mataram,” ungkapnya.
Lebih lanjut, GKR Hemas menuturkan bahwa Ilmu kebatinan Ki Ageng Wonolelo sangat tinggi. “Demikian pula Jasanya sehingga saat ini kita masih tetap memperingati dengan melakukan kirab pusaka peninggalanya yang berupa Al Qur’an, Baju Ontokesumo, Kopyah dan Tongkat potongan kayu mustaka Masjid dan segala jenis rerangkaianya seperti uborampe Tumpeng, Ingkung Ayam dan Gunungan Apem, tambah GKR Hemas.
Tradisi Agama Islam di Jogja, lanjut Kangjeng Ratu Hemas, sudah ada sejak dahulu kala. Ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. “Dan sesungguhnya warisan tradisi Agama Islam di Jogja sudah sempurna untuk masyarakat dan budaya Ngayogyakarto Hadiningrat,” ujar GKR Hemas.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan/Kundha Kabudayan Provinsi DIY yang diwakili Sekretaris Dinas Cahyo Widayat dalam sambutanya mengatakan bahwa, upacara adat tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2018. Oleh karenanya perlu dipertahankan bersama bahkan diupayakan pelaksanaan semakin tertata dan baik tanpa meninggalkan ruhnya.
“Upacara Adat Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo merupakan niti laku Ki Ageng Wonolelo dalam menyebarkan ajaran luhur dan keutamaan, oleh karena itu harus diupayakan lebih baik dan tertata yang memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Nilai lebih yang diharapkan adalah peningkatan Nilai Keimanan, peingkatan peran pemberdayaan Ekonomi terlebih bagi UMKM, Peningkatan gotong royong dan Kesejahteraan masyarakat,” jelas Cahyo Hidayat.
Menurut jadwal yang dikeluarkan oleh panitia, perayaan Saparan Ki Ageng Wonolelo akan berlangsung selama 14 hari sejak 26 Agustus hingga tanggal 10 September 2022. Agenda setiap hari berupa pengajian, pentas seni dan budaya secara bergantian meliputi Festival Apem, Pentas Jathilan, Kethoprak, Macapat, Kesenian kreasi anak, kesenian religius Badui dan Hadroh, karawitan hingga Band dan Dangndut. Puncak acara berupa kirap pusaka dengan bregada Jumat 9 September 2022.
Acara Pembukaan Saparan Ki Ageng Wonolelo ditandai dengan pemukulan Gong oleh GKR Hemas didampingi Sekda Sleman, Wakil Ketua DPRD Kab. Sleman, Unsur Kundha Kabudayan DIY dan Kabupaten Sleman serta Penewu Ngemplak dan Lurah Widodomartan, Usai pembukaan dilanjutkan pentas seni dan Pengajian Akbar oleh KH Sutarjo. (Tri Joko S/KIM Kalasan)


