Sleman – Untuk mendeteksi dini pengidap tuberculosis (TB) secara jemput bola, maka Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Tim Zero TB Puskesmas Gamping II (Punggawa) melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) atau mobile screening yang berlangsung di halaman belakang Puskesmas Gamping II, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (8/9/2022) pagi.
Kegiatan mobile screening dilakukan dengan cara melakukan screening terhadap kontak Penderita (keluarga), Kontak Erat (lingkungan penderita), dan Petugas kesehatan sesuai prioritas untuk menemukan pasien pengidap TB secara aktif tanpa dipungut biaya menggunakan sarana mobil rontgen.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Puskesmas Gamping II, Muhammad Daroji, M.PH, Program jemput bola guna mendapatkan suspek tuberculosis ini dilakukan oleh Tim Zero TB berjumlah 12 orang yang terdiri dari dokter, perawat, petugas registrasi, radiografer, dan coordinator untuk melayani pasien berupa registrasi, screening, pemeriksaan dokter, tes tuberkulin, pengambilan dahak, serta foto rontgen.
“Jumlah keseluruhan peserta kegiatan yang dilakukan skrining sebanyak 93 orang termasuk petugas kesehatan Puskesmas Gamping II. Rinciannya adalah karyawan Punggawa sejumlah 26 orang, kontak erat dan serumah sejumlah 65 orang, serta 2 orang kader Kesehatan,” imbuhnya.
Selanjutnya, Muhammad Daroji menambahkan bahwa cara ini sangat efektif dalam mendeteksi sebaran tuberculosis dengan sasaran hingga tingkat desa maupun padukuhan karena dapat menemukan pasien dalam jumlah yang banyak dibandingkan dengan menunggu pasien yang berinisiatif memeriksakan diri ke Puskesmas.
“Dari 93 orang sasaran ACF tersebut terdapat 12 orang yang menjalani pemeriksaan dahak, sedangkan yang melakukan pemeriksaan Mantoux atau tuberkulin sebanyak 4 orang,” lanjut Daroji.
Adapun sasaran kegiatan ACF adalah seluruh warga mulai dari balita hingga lansia yang sehat maupun sedang mengalami keluhan. Peserta screening yang hadir di lokasi pemeriksaan harus menunjukkan kartu identitas diri di meja pendaftaran, serta mendengarkan penjelasan dari perawat yang menerangkan penyakit tuberculosis secara singkat termasuk alur pemeriksaannya.
Peserta menjalani proses rontgen dada yang dilakukan di dalam mobil screening. Dilanjutkan pembacaan hasil rontgen oleh dokter menggunakan teknologi arificial intelegent yang dapat menginterpetasikan hasil Xray peserta sekaligus melakukan amnesis atau wawancara mengenai faktor risiko paparan dan infeksi Tuberkulosis secara mendalam.
Program zero TB diluncurkan pemerintah guna mewujudkan daerah bebas tuberculosis melalui tiga elemen penting yaitu penemuan kasus TBC secara aktif, pengobatan TBC secara efektif, serta pencegahan TBC yang bermanfaat dapat mengetahui sejak dini bagi warga yang sehat maupun mengalami gejala. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


