Sleman – Pembahasan mengenai kebencanaan di Kabupaten Sleman selalu menjadi topik penting bagi masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan bencana seperi Kabupaten Sleman. Salah satunya yang dilakukan di Rumah Lurah Pakembinangun, Pakem, Suranto yang dihadiri oleh Subandriyo, Mantan Kepala BPPTKG DIY, Sabtu (10/9/2022) yang membicarakan seluk beluk tentang bencana, seperti aktivitas merapi, dan status kebencanaannya.
Subandriyo dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa tipe letusan Merapi itu berubah-ubah, tidak bisa ditentukan dengan pasti.
“Tanda-tanda bahwa Merapi mau meletus tidak bisa diinterpretasikan hanya dari seismiknya saja. Tetapi juga harus disinkronkan dengan data gas vulkanis yang meningkat, deformasi, survey micro gravity, serta parameter lainnya yang sebanding dengan itu. Deformasi inilah yg menjadi penentu kemana arah luncuran lava akan terjadi. Maka sejak itu saya memasang Electronic Distance Measurement (EDM),” terang Subandriyo.
Ia juga menceritakan mengenai pengalamannya ketika menentukan status suatu gunung, karena berhubungan langsung dengan berbagai sektor. Salah satunya adalah ketika menentukan status Gunyng Agung di Bali.
“Pada bulan September saat itu, aktivitas seismik naik luar biasa. Sehingga kami naikkan menjadi Awas. Dan di bulan Desember baru terjadi letusan dan itu kecil ternyata. Namun selama tiga bulan itu, pemerintah provinsi Bali merugi sekitar sebelas trilyun, karena semua sektor pariwisata di Bali ditutup karena tingginya aktivitas gunung Agung yang kami tetapkan menjadi berstatus Awas. Pemerintah harus menanggung hidup para pengungsi Gunung Agung saat itu. Itu faktanya,” kata Subandriyo.
Namun sebagai aparat yang ditunjuk oleh negara untuk bekerja menyelamatkan nyawa manusia, ia lebih memilih keselamatan nyawa manusia, daripada terpuruknya perekonomian di saat terjadi bencana.
Subandriyo juga memberikan gambaran mengenai bagaimana proses gempa vulkanik yang sering meningkat di beberapa waktu terakhir. Menurutnya, aktivitas yang terjadi dibagi menjadi proses intrusi dan ekstrusi magma.
“Jadi ada yang disebut proses Intrusi dan Ekstrusi magma. Proses intrusi adalah masuknya magma ke kantong-kantong magma di bawah puncak. Seperti diketahui bahwa setelah gunung berapi itu meletus besar, maka perut gunung akan jadi kosong. Dan gunung api itu tidak perlu waktu lama untuk mengisi kantong-kantong magma yang kosong tadi,” terangnya.
Material magma baru itu, lanjutnya, kaya akan gas vulkanis, sehingga hembusan yang dihasilkan akan besar. “Makanya beberapa saat lalu sering terjadi freatik, karena itu magma baru yang kaya akan gas vulkanis,” ungkap Subandriyo.
Adapun gempa vulkanik dalam ini menjadi sering terjadi karena proses intrusi magma, di mana jumlah magma yang tercatat ada 3 juta meter kubik, namun gas yang ada hanya sedikit, sehingga banyak menghasilkan gempa.
“Jadi nanti diperkirakan hanya akan menjadi erupsi efusif, tidak eksplosif. Dan karena magma ini miskin gas, lajunya menjadi lambat sekali. Sehingga gempa VTA terjadi banyak sekali,” tambah Subandriyo.
“Nah, kemudian setelah kantong magma terisi, terjadilah proses keluarnya magma dari kantong-kantong tersebut, menjadi guguran dan hembusan. Itulah yang dinamakan proses esktrusi magma. Namun masih banyak gugurannya daripada DeGassing atau hembusan. Maka dipastikan erupsi eskplosif sulit terjadi,” tambahnya lagi.
Pada kesempatan tersebut, Subandriyo juga memberikan kiat agar penduduk tidak menjadi korban dari bencana gunung berapi. Hal utama yang digarisbawahi olehnya adalah harus sering diadakan pelatihan tanggap darurat bencana.
“Karena dengan begitu, otak kita akan mudah merekam bagaimana tindakan jika benar-benar terjadi bencana. Karena penanggulangan bencana itu menggunakan otak emosi, bukan ilmu pengetahuan. Semakin banyak pelatihan, akan semakin banyak emosi ini terlatih. Maka ketika terjadi bencana, otak kita akan me-recall rekaman pelatihan penanggulangan bencana tersebut agar menjadi efektif dan kita bisa tahu apa yang kita lakukan agar terindar dari bencana tersebut,” tutupnya. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)


