Batik dengan Pewarna Alami Lebih Ramah Lingkungan

Sleman – Batik saat ini menjadi produk yang banyak dikerjakan oleh masyarakat termasuk masyarakat Sleman. Hanya saya untuk pewarnaan batik para perajin batik lebih banyak memilih warna yang mengandung unsur kimia atau pewarna sintetis. Tak banyak yang memilih menggunakan pewarna alami yang lebih aman dan ramah lingkungan. Setelah melakukan berbagai penelitian Gama Indigo yang berlokasi di Dusun Jetis Baran Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik Sleman telah mengembangkan pewarna alami untuk batik.

“Ada 5 keuntungan menggunakan pewarna alami untuk batik yaitu murah, berkualitas, dosis pasti, praktis dan tersedia dalam kapasitas besar,” kata Lusiana Mariana, salah seorang karyawan Gama Indigo kepada wartawan, Rabu (10/12). Dijelaskan Lusiana, pemilihan pewarna alami untuk batik ini memang lebih aman (tidak karsinogen dan ramah lingkungan. Selain itu memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah, menekan impor penggunaan pewarna sintetis dan lainnya.

Selama ini lanjut Lusiana potensi alam ini belum termanfaatkan dengan baik karena zat warna sintetis murah dan tersedia di pasaran. Dan setelah mengadakan penelitian agar pewarna alami kompetitif dengan pewarna sintetis sehingga potensi zat warna alami bisa termanfaatkan. “Gama Indigo telah menggunakan bahan pewarna alami untuk pewarna batik dengan serbuk dari ekstrak kayu Tingi, Tegeran, Jolawe, Merbau dan Sabut Kelapa dan sudah dilakukan beberapa tahun lalu,” tutur Lusiana.

Dengan pewarna alami ini proses pencelupan batik lebih mudah dan tidak berlimbah karena pewarnanya bisa dipakai terus. Sehingga tidak ada limbahnya. Dan warna yang dihasilkan dengan pewarna alami ini antara lain coklat, coklat kemerahan, biru, coklat gelap dan lainnya.

image_pdfimage_print
Bagikan: