Sleman – Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperingatkan dusun-dusun yang ada di kiri dan kanan sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi agar waspada terhadap kemungkinan banjir lahar hujan. Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito mengatakan sekurangnya ada 76 dusun yang terancam banjir lahar hujan. Menurut Julisetiono, dusun-dusun itu berada di pinggir Sungai Gendol, Sungai Opak, Sungai Kuning, dan Sungai Boyong.
“Dusun-dusun itu ada di Kecamatan Cangkringan, Ngemplak, Kalasan, Prambanan, Pakem, Ngaglik dan Turi,” kata Julisetiono.
Dalam menghadapi kemungkinan terjadinya banjir lahar di musim musim penghujan, lanjut Julisetiono, BPBD Sleman sudah melakukan survei ke sejumlah titik. Dalam survei tersebut diketahui berbagai kemungkinan jika terjadi banjir di alur sungai tersebut termasuk titik kemungkinan air dan material meluap serta titik-titik yang mungkin longsor yang bisa membahayakan masyarakat.
“Kami juga berkoordinasi dengan instansi lain seperti BMKG dan BPPTKG untuk melalukan pemantauan,” ujarnya.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta dalam memantau potensi banjir lahar pada musim hujan melalui CCTV yang terpasang di sejumlah titik sungai yang aliran airnya berhulu di Gunung Merapi Merapi. Selain curah hujan dan pemantauan CCTV, BPPTKG juga menggunakan stasiun seismik untuk melakukan pemantauan banjir lahar. Stasiun seismik merupakan alat pemantauan kegempaan yang terpasang di lereng Gunung Merapi.
Potensi banjir lahar diprediksi lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Saat ini, material erupsi 2010 yang masih tersisa di puncak Gunung Merapi diprediksi sekitar 40 juta hingga 50 juta meter kubik.


