Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman berupaya memulihkan citra wisata kesehatan tradisional Spa dari pemahaman yang keliru di masyarakat. “Selama ini memang ada pihak-pihak yang mengatasnamakan wisata kesehatan spa untuk hal-hal negatif seperti prostitusi terselubung,” kata Kepala Seksi Dokinfo Pariwisata Disbudpar Sleman, Wasita MAP, Minggu (14/12).
Menurut Wasita, upaya pemulihan citra wisata kesehatan Spa tersebut ditempuh dengan mengembangkan diversifikasi produk wisata kesehatan spa
di sejumlah desa wisata. “Diversifikasi inilah yang akan menjadi daya tarik tambahan dan meningkatkan daya kompetisi antara destinasi yang satu dengan destinasi yang lain,” katanya.
Wasita menambahkan, di sisi lain pengembangan wisata kesehatan spa di desa-desa wisata diharapkan lambat laun akan meluruskan pemahaman
masyarakat tentang spa sekaligus memulihkan citra yang selama ini banyak disalahartikan. “Kami juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada Sekolah Vokasi Pariwisata UGM dan Putri Kedaton Grup yang telah menginisiasi program wisata kesehatan spa untuk dikembangkan di desa wisata,” kata Wasita.
Wasita mengatakan apabila wisata kesehatan spa ini dapat dikembangkan dan diimplementasikan dengan baik di desa wisata maka sudah barang tentu akan meningkatkan kualitas destinasi tersebut yang akan menjadi magnet bagi calon wisatawan yang akan berkunjung. Optimisme terhadap wisata kesehatan spa muncul diungkapkan Wasita, setelah 70 mahasiswa D3 Sekolah Vokasi Kepariwisataan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan studi lapang di Desa Wisata Grogol, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Sleman, Selasa (9/12) lalu.
“Menurut dosen pendamping studi lapang kemarin, Desa Wisata Grogol berpotensi untuk pengembangan wisata kesehatan spa,” tutur Wasita. Wasita menambahkan, pihaknya mengapresiasi Sekolah Tinggi UGM bersama Putri Kedaton Group yang telah menginisiasi pengembangan program wisata kesehatan spa di desa wisata.
“Rencananya, wisata kesehatan spa akan dikembangkan di Desa Wisata Grogol dengan melibatkan warga setempat,” ujarnya kemudian. Hingga kini, terdapat 38 desa wisata di Kabupaten sleman. Terdiri dari 16 desa wisata tumbuh, 12 desa wisata berkembang, dan 10 desa wisata mandiri. Sementara Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan, desa wisata secara umum menawarkan kearifan budaya lokal yang masih lestari. “Wisatawan akan merasakan pengalaman seperti masyarakat setempat. Misalnya, ikut pergi ke sawah,” kata Ayu.
Sepakat dengan Wasita, Ayu pun mendukung adanya pengembangan wisata kesehatan spa di desa wisata. “Kami akan mendukung program yang bisa meningkatkan potensi dan kualitas pariwisata di Sleman,” ungkapnya.


