Kembangkan Industri Bambu Seyegan, Disperindag DIY Gelar Bimtek Wirausaha Baru

Sleman – Dalam rangka penumbuhan dan pengembangan Industri kecil, menengah dan aneka, Disperindag DIY melalui dana APBN anggaran tahun 2023 mengadakan Bimtek Wira Usaha Baru (WUB) Industri Kecil Menengah (IKM) Mebel Bambu di Seyegan. Kegiatan yang berlangsung selama 5 hari dari Kamis (2/3/2023) sampai dengan Selasa (7/3/2023) ini diikuti oleh 20 peserta yang mana 4. Bertempat di rumah Ketua Kelompok Pengrajin Kamal Ngremboko, Kamal Kulon Margomulyo, kegiatan ini menghadirkan 2 instruktur dari ISI Yogyakarta.

Bimtek dibuka oleh Sri Lestari, Ulu ulu yang mewakili Lurah Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, Sri memberi arahan bahwa pelatihan bagi pengrajin mebel bambu ini hendaknya berkelanjutan sehingga bekal yang didapat dapat meningkatkan ketrampilan sebagai modal usaha dari pengrajin. Sri Lestari juga berharap, peserta dibuatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai kelengkapan operasional dari pengrajin.

Siti Baroroh, Plt Panewu Seyegan dalam pengarahannya menyampaikan perlunya kreativitas dalam menciptakan produk sehingga mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Selain memberi pengarahan, Siti juga memberikan materi tetang IUMK yaitu Ijin Usaha Mikro Kecil yang merupakan legalitas pelaku usaha.

“IUMK merupakan fasilitasi dari pemerintah sehingga pelaku usaha bisa mengakses permodalan ataupun KUR,” terang Siti.

Siti menambahkan, manfaat dari IUMK bagi pelaku usaha yaitu mendapat perlindungan usaha, kerja sama dengan pihak lain, pendampingan pengembangan usaha, kemudahan dalam akses permodalan dan mendapat pemberdayaan dari pemerintah. 

“Adapun tujuan IUMK adalah membangun data base, menaikkan status usaha, perlindungan dan penguatan modal,” imbuh Siti.

Reza Arfani  mewakili Kepala Disperindag DIY membuka secara resmi Bimtek WUB IKM Mebel Bambu di Seyegan. Reza menyampaikan bahwa kegiatan Bimtek ini dibiayai dana Dekonsentrasi dari Pusat (APBN). Latar belakang Bimtek WUB IKM mebel bambu sendiri adalah kekawatiran dari pengrajin bambu untuk meneruskan usaha kerajinan bambu tersebut kepada generasi muda atau milenial.

“Dengan kondisi tersebut maka diusulkan untuk Bimtek bagi Wira Usaha Baru (WUB) yang pesertanya maksimal berusia 40 tahun,” ujar Reza.

Reza menyadari kepeminatan pengrajin mebel di usia muda sangat rendah, sehingga panitia juga merasa kesulitan untuk menjaring pengrajin bambu usia milenial sebagai peserta bimtek. “Untuk itu Disperindag mempunyai tantangan kedepan untuk meningkatkan animo pengrajin bambu dengan memfasilitasi dan memberikan banyak kemudahan sehingga generasi penerus pengrajin mebel bambu dapat terpenuhi,” ungkap Reza.

Rahmawan D Prasetyo dari ISI Yogyakarta,  membuka pelatihan hari pertama dengan menjelaskan tentang Konsep Kewirausahaan, mulai dari manfaat kewirausahaan, jenis wirausaha, startup bisnis sampai dengan industri kreatif.

Rahmawan yang juga dosen Design Produk/interior ini juga menjelaskan secara global bisnis retail dan strategi usahanya.

Instruktur yang kedua adalah Sekar Adita yang juga dari ISI Yogyakarta yang memberikan materi tentang Desain Furniture. Dita menyampaikan tentang Fundamental Desain Furniture, pendekatan studi desain furniture yang mengandung aspek fungsi kegunaan, aspek teknologi, aspek gaya dan indikator status sosial.

Dita juga menambahkan tentang pendekatan konsep Desain Furniture yang meliputi eksistensi, fungsi dan kebutuhan. “Untuk konsep yang terakhir ini tetap memperhitungkan beberapa faktor yaitu kenyamanan, keselamatan, keamanan, keindahan dan efisiensi,” jelas Dita.

Di bagian akhir, Dita menambahkan tentang fungsi dan jenis furniture, juga disinggung tentang egronomi dalam desain furniture.

Kegiatan dilanjutkan tanya jawab dan diskusi termasuk kesepakatan dengan peserta mengenai pembagian kelompok kerja dan jadwal praktek yang dimulai pada hari sabtu. Kegiatan yang dimulai pada pukul 09.00 wib tersebut berakhir pada pukul 14 30 wib. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

image_pdfimage_print
Bagikan: