Pengembangan Desa Wisata Jadi Prioritas Disbudpar Sleman

Sleman – Pengembangan desa wisata sebagai salah satu produk wisata unggulan akan menjadi prioritas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman. Namun, Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengakui, strategi pemasaran desa wisata masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera digarap tahun depan.

Menurut Ayu, selama ini pihaknya telah menggunakan berbagai cara untuk mempromosikan desa wisata. “Kami menggelar kegiatan yang bisa menarik wisatawan, misalnya family trip dan java summer camp. Kalau ada pameran, mereka (desa wisata) juga kita ajak,” kata Ayu di Sleman, kemarin.

Meski demikian lanjutnya, pemasaran desa wisata masih belum optimal. Disbudpar berencana akan menyampaikan promosi paket desa wisata melalui kerja sama dengan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) sehingga promosinya lebih mudah.

Dikatakan Ayu, pengembangan potensi desa wisata sangat relevan dengan tren pariwisata yang mulai beralih ke alam. Desa wisata punya nilai jual yang baik, sepanjang dia mampu menunjukkan potensi lokal. Misalnya potensi alam, seni, budaya, atau kuliner yang dikelola masyarakat sendiri.

Setidaknya di Sleman terdapat 38 desa wisata yang resmi tercatat Disbudpar Sleman. Ayu berharap, pengelola desa wisata tidak latah dalam penawaran paket wisata. Misalnya jangan semuanya outbond. Nanti kalau sama semua, jadi tidak menarik lagi. Desa wisata di Sleman dibagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu desa wisata tumbuh, berkembang, dan mandiri. Ayu mengatakan, klasifikasi tersebut bukanlah bentuk diskriminasi.

“Ini memudahkan pendampingan karena kami harus membuat mereka berani memunculkan potensi yang khas,” tutur Ayu.

Tidak harus ada kegiatan. Misalnya membiasakan anak-anak dengan permainan tradisional atau membuat masakan khas. Jadi selalu siap kalau sewaktu-waktu ada tamu. Sementara itu, Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Disbudpar Sleman, Wasita menambahkan, pengunjung desa wisata didominasi komunitas masyarakat metropolis. Terutama desa wisata mandiri, itu sudah ada jaringan sendiri.

image_pdfimage_print
Bagikan: