Sleman – Diare termasuk penyakit yang berbahaya, terutama bagi anak-anak. Karena menurut data WHO, 31 persen kematian anak usia di bawah 1 tahun serta 25 persen kematian anak usia 1-4 tahun disebabkan oleh diare. Untuk itulah, penting bagi masyarakat, terutama yang memiliki anak balita untuk memahami bagaimana ciri-ciri serta penangan diare seperti apa.
Hal tersebut yang ditekankan oleh dr. R Yuli Kristyanto saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Penyakit Diare, Pemerikasaan Gula darah, Skrining Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Rabu (15/3/2023).
“Mengingat besarnya resiko kematian anak yang disebabkan oleh diare, maka kepada Ibu-Ibu Kader kesehatan yang diundang pada acara tersebut saya sangat berharap agar apa yang disampaikan tentang penyakit diare ini dapat dipahami, disampaikan ke masyarakat yang lebih luas sekaligus diterapkan dalam mendampingi kesehatan masyarakat,” ujar dr. Yuli.
Dokter Yuli menjelaskan bahwa Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari.
“Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefsiensi dan sebab-sebab lainnya. Penyebab yang sering ditemukan di lapangan ataupun secara klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan,” jelas dr. Yuli.
Dokter Yuli menuturkan, diare sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak karena dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan dalam tubuh) akibat seringnya buang air besar.
“Anak diare dengan dehidrasi berat 8,5 kali lebih berpotensi menyebabkan kematian dibandingkan anak yang tidak dehidrasi. Sepertiga kematian akibat diare terjadi pada 0-7 hari pertama sakit. Di samping itu sebagian besar kematian akibat diare terjadi di luar fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas dr. Yuli
Jika menemui anak yang menderita diare, Dokter Yuli meminta untuk melihat dan bertanya, berapa lama anak sudah mengalami diare, berapa kali anak buang air besar dalam satu hari, apakah tinjanya ada darah, apakah dia muntah, apakah ada penyakit lainnya.
“Sarus dipastikan juga keadaaan umum anak sadar atau tidak sadar, lemas atau terlihat sangat mengantuk, apakah anak gelisah, jika diberikan minum, apakah dia mau minum. Jika mau, apakah ketika minum ia tampak sangat haus atau malas minum, selanjutnya lihat apakah matanya cekung atau tidak cekung. Lakukan cubitan kulit perut (turgor), apakah kulitnya kembali segera, atau lambat,” ungkap dr. Yuli
“Tanda-tanda untuk segera membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak buang air besar cair lebih sering, muntah berulang-ulang, mengalami rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam, tinjanya berdarah serta jika tidak membaik dalam 3 hari,” imbuhnya.
Lebih lanjut Dokter Yuli berpesan kiat untuk mencegah diare adalah dengan menberikan ASI eksklusif, gunakan air bersih, dan masak air yang dipergunakan untuk konsumsi hingga mendidih, jaga kebersihan makanan, minuman, alat masak dan alat makan, jaga kebersihan kamar mandi dan jamban, hindari budaya BAB sembarangan.
“Selain itu juga dengan memberi jarak pelimbahan dan sumber air (sumur) setidaknya 10 meter, biasakan cuci tangan pakai sabun sesudah buang air dan sebelum makan, jaga kebersihan mainan dan tangan anak-anak serta berikan vaksinasi Rotavirus sesuai jadwal,” tutupnya. (Endarwati/KIM Donoharjo)


