Desa Siaga Bencana Sleman Perlu Lumbung Sosial

Sleman – Pembentukan desa siaga bencana di Kabupaten Sleman perlu diikuti dengan pembuatan lumbung sosial untuk mengantisipasi kebutuhan darurat saat terjadi musibah.

“Setiap desa siaga bencana diperkuat dengan lumbung sosial yaitu kelengkapan kebutuhan dasar seperti lauk pauk, kebutuhan kaum perempuan dan anak, serta kebutuhan dasar lainnya,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman. Drs Julisetiono Dwi Wasita, Jumat (9/1).

Menurut Julisetiono, desa siaga bencana bukan slogan semata, namun warga desa tersebut yang berdomisili di suatu daerah yang dianggap rawan terhadap bencana, agar masyarakatnya memahami dan dapat meminimalisasi serta mengantisipasi dampak bencana tersebut sejak dini.

“Warga di daerah Desa Siaga Bencana harus siap menghadapi berbagai bencana alam di daerahnya karena mereka juga dilatih bagaimana untuk menyelamatkan diri,” kata Julisetiono.

Ia mengatakan, mitigasi bencana diharapkan dapat menjadi kearifan lokal masyarakat di kawasan rawan bencana pada khususnya dan masyarakat Sleman pada umumnya.

“Pemkab telah melakukan Pemetaan titik rawan bencana pada musim hujan ini seperti banjir lahar dingin di kawasan sekitar sungai berhulu di Gunung Merapi, tanah dan batu longsor di kawasan perbukitan Prambanan serta mewaspadai kemungkinan terjadinya angin kencang seperti puting beliung,” katanya.

Julisetiono menambahkan, masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa. Peran masyarakat dalam mitigasi bencana lanjutnya  menjadi sangat penting, karena warga merupakan subjek, objek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan risiko bencana.

Agar memberikan manfaat yang optimal, rencana mitigasi harus mengadopsi dan meperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat.

“Hal ini dikarenakan kedua aspek tersebut merupakan faktor penentu dalam keberhasilan upaya pengurangan risiko bencana,” katanya.

image_pdfimage_print
Bagikan: