Sleman – Karya tulis dalam bentuk buku solo maupun antologi berisi cerpen, puisi, pengalaman hidup, hingga jurnal ilmiah merupakan kekayaan intelektual tak ternilai harganya. Kekayaan tersebut berusia sepanjang masa dan tak bisa dicuri. Bahkan karya yang kemudian dibukukan secara pribadi (solo) maupun bersama-sama (antologi) merupakan sumbangsih nyata untuk gerakan literasi.
Untuk itulah, Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) menggelar Temu Tulis KBMN PB PGRI di Asrama Haji Pogung Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman, Rabu (5/7/2023). Kegiatan Temu Penulis KBMN diikuti lebih dari 100 peserta yang mayoritas berprofesi sebagai guru dan pengawas yang mengenakan seragam PGRI. Kegiatan juga disiarkan melalui zoom, diikuti peserta dari berbagai daerah.
KBMN adalah Kelas Belajar Menulis Nusantara, sebuah kegiatan pelatihan menulis secara daring melalui zoom dan WA group. “Ini pertama kali para peserta bertemu, yang semuanya memiliki semangat menulis, menggelorakan literasi,” ujar Widya Setianingsih, Ketua Panitia kegiatan.
Temu Penulis KBMN dengan agenda utama workshop menghadirkan nara sumber cukup kompeten seperti Prof. Dr. Ngainun Naim, M,.Pd yang menyampaikan materi Menulis itu Mudah dan Catur Nurrohman,M.Pd yang menyampaikan materi Literasi Bergerak, Berdampak Bagi Dunia Pendidik Nusantara. Ada pula agenda peluncuran buku Tim Solid, kunjungan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali), studi perpustakaan di MTsN 6 Bantul, bazar buku, pembacaan puisi dan pantun, tukar cindera mata antar daerah serta company visit ke Penerbit Andi.
Brian selaku founder menegaskan, KBMN berawal dari kelas menulis lewat melalui WA grup, dengan 256 anggota setiap kelompok, yang terus berkembang hingga 612.
“Peserta bertambah hingga 1024 dengan pelatihan secara gratis selama 2,5 bulan. Terjadi seleksi alam, berguguran hingga tersisa 800 peserta,” terang Brian.
Brian menambahkan hingga saat ini, pelatihan sudah memasuki gelombang ke-29 dan masih akan terus berlanjut, ujarnya. Peserta memang terpisah-pisah di berbagai daerah dan provinsi, namun memiliki ikatan kedekatan, utamanya saling memotivasi untuk menulis.
“Usai satu materi pelatihan, setiap peserta diwajibkan membuat resume atau rangkuman. Haram copy paste rangkuman, harus tulisan asli dan dipublikasikan di blog. Ini upaya memunculkan blogger-blogger baru,” tambah Brian.
Setiap peserta akan membuat resume dengan gaya bahasa sendiri-sendiri sehingga saat diterbitkan menjadi berbagai variasi judul, lanjut Brian.
Selain itu, setiap peserta diwajibkan menerbitkan buku solo. Isi buku bisa hasil 30 resume pelatihan, kumpulan cerpen, puisi, pengalaman mengajar dan lainnya. Ada banyak tema buku yang bisa ditulis dan diterbitkan. Maka tidak mengherankan jika saat peluncuran buku, setidaknya ada 20 guru dan pengawas yang masing-masing telah berhasil menerbitkan 1 hingga 4 buku solo.
Salah satu peserta E. Hasanah Pengawas madrasah dari Sukabumi mengakui banyak keuntungan mengikuti KBMN ini.
“Termotivasi dan terasah kemampuan menulis, sejak mencari ide hingga menuangkan menjadi tulisan,” kata mantan Guru Bahasa Inggris MAN Cibadak itu.
E Hasanah juga sudah menerbitkan buku solo, kumpulan 74 puisi yang ia beri judul Selaksa Suara Sukma. Buku tersebut dicetak CV Oase Pustaka dengan ISBN 978-623-378-538-9. Sebagai pengawas ia berharap setiap guru menjadi penggerak literasi, menulis dan menerbitkan buku sebuah langkah nyata memotivasi peserta didik. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)


