Sleman – Dalam rangka pencapaian eliminasi TB (tuberculosis) pada tahun 2030, Lembaga Sinergi Indonesia Sehat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mencegah dan menangani kasus TBC di Kabupaten Sleman.
Hal tersebut disampaikan Amira dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada acara Rapat Koordinasi Tingkat Kabupaten dan Validasi Data Kader Tuberkulosis, Selasa (25/7/2023) di Aula Kalurahan Donoharjo.
Amira menekankan penting bagi masyarakat untuk dapat mengetahui kondisi kesehatannya sehingga penanganan akan lebih mudah.
“Sehingga perlunya berbagai strategi, salah satunya dengan bantuan kader TB,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Nurcholis Majid kepala SSR (Sub Sub Recipient) dari Lembaga Sinergi Sleman menjelaskan bahwa TBC memiliki efek yang sangat besar bagi perkembangan anak karena dapat menyebabkan Gizi buruk, stunting serta IQ turun.
“Karena itu perlu strategi yang luar biasa agar dapat menyelamatkan generasi kita dari ancaman penyakit TBC beserta akibat turunannya. Perlu pergerakan dari berbagai pihak baik Puskesmas, Kader, Programer, Kalurahan, Padukuhan maupun di tingkat RT dan RW,” jelas Nurcholis.
Sementara Itu, Prima dari Lembaga Sinergi menjelaskan bahwa dalam upaya penanganan dan pencegahan TB, bersama Puskesmas dan kader TB melakukan kegiatan investigasi kontak, penemuan kasus, pencegahan juga pendampingan minum obat kepada pasien.
“Dalam pelaksanaannya masih banyak kendala diantaranya masih ada Puskesmas yang tidak memiliki kader dan belum semua puskesmas mengimplementasikan program TPT ( terapi pencegahan tuberculosis) pada balita yang kontak serumah dengan Indeks Kasus, sehingga capaian TPT masih sangat sedikit,” terang Prima.
Kendala lainya, lanjut Prima adalah tidak semua kader dapat memberikan edukasi secara lengkap, serta jumlah skrining dan pemeriksaan yang masih sedikit.
“Beberapa puskesmas tidak mempunyai data alamat yang lengkap, sehingga menyulitkan kader dalam melakukan kegiatan investigasi kontak,” terang Prima.
Untuk menanganinya, telah dilakukan beberapa strategi, seperti dengan penarikan data indeks secara berkala, melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas, melakukan re-visit terhadap kontak serumah, dan mendorong Puskesmas untuk melakukan kegiatan IK (investasi kesehatan) dengan menggunakan kader dusun.
“Strategi penanganan juga dengan meningkatkan jejaring dengan stakeholder agar dapat meningkatkan capaian terduga TB serta koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas agar pemberian TPT (terapi pencegahan tuberculosis) pada balita dapat berjalan dengan baik,” jelas Prima lagi. (Endarwati/KIM Donoharjo)


