Cegah Penumpukan Sampah, Pemkab Sleman Operasikan TPS Tamanmartani

Sleman – Ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan menimbulkan masalah tersendiri bagi warga Sleman. Pasalnya, TPA Piyungan adalah tempat sampah seluruh warga Sleman, baik industri maupun rumah tangga dibuang setiap harinya. Akibat penutupan tersebut, sampah di Sleman menjadi tidak terkelola, sehingga mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah di beberapa titik.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyediakan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sampah di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menuturkan, TPS Tamanmartani ini mulai beroperasi sejak Senin 7 Agustus 2023. TPS ini mampu menampung 1500 Ton sampah per harinya atau sekitar 3750 m3, dengan sampah yang masuk akan dibatasi sebanyak 50 Ton perharinya.

Lebih lanjut, Kustini menjabarkan bahwa TPS Tamanmartani ini didesain dengan baik untuk mengantisipasi polusi sampah. Lahan dibuat berbentuk kolam berkedalaman 1,5 m dengan sudut kemiringan ke selatan untuk mengalirkan lindi (cairan sampah) ke arah selatan. Ujung kemiringan ditujukan untuk mengalirkan air lindi dibuatkan atau diberi bak penampung untuk menampung air lindi yang terkumpul. Setelah terkumpul air lindi disedot untuk diolah atau dibuat ecolindi.

“Setiap sampah yang dibuang disemprot dengan  ecolindi untuk mencegah bau dan lalat kemudian ditutup dengan geomembran untuk mencegah air hujan membasahi sampah,” terang Kustini saat meninjau langsung lokasi TPS Tamanmartani, Senin (7/8/2023).

Ia menambahkan bahwa seluruh kolam hingga tanggul di TPS ini telah dilapisi geomembran. “Dikerjakan oleh tenaga profesional agar tidak bocor sehingga air sampah tidak akan mencemari air tanah,” imbuhnya.

Wabup Sleman sedang menyiram sampah di TPS Tamanmartani dengan cairan ecolindi, Senin (7/8/2023)

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengatakan bahwa Pembatasan sampah yang masuk ke TPSS sebesar 50 ton per hari adalah hasil kesepakatan dengan warga sekitar dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas pengangkut sampah di wilayah yang berdekatan dengan TPSS tersebut.

Untuk itu, Danang mengajak masyarakat Sleman untuk semaksimal mungkin mengurangi produksi sampah dari rumah. Ia juga mengimbau masyarakat membuat lubang biopori atau jugangan untuk menimbuh sampah organik dan mengurangi kemasan sekali pakai dalam berbelanja dengan membawa kantong belanja dari rumah.

Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan sampah anorganik yang mempunyai nilai untuk dikumpulkan dan diberikan ke pemulung, Bank Sampah, maupun sedekah sampah.

image_pdfimage_print
Bagikan: