Sleman – Warga Dusun Pakem Desa Tamanmartani Kecamatan Kalasan membuat gerakan sedekah atau sodaqoh sampah. Gerakan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pengolahan sampah di dusun tersebut. Seperti diceriterakan Gunandar, Ketua Pengelola Sampah Permata Pakem Tamanmartani Kalasan bahwa kegiatan pengolahan sampah tersebut melibatkan seluruh warga yang ada di lima RT di dusun tersebut. Disebut gerakan sodaqoh sampah lantaran gerakan tersebut dilakukan secara sukarela oleh warga untuk mengumpulkan sampah rumah tangga di masing-masing rumah.
“Tidak hanya dikumpulkan, bahkan sampah sudah dipilah antara sampah organik dan non-organik,” kata Gunandar ketika menerima rombongan prestour wartawan dan Humas Sleman di tempat Pengolahan Sampah Mandiri (TPSM) Permata Dusun Pakem, Rabu (4/2). Menurutnya, pemilahan sampah yang dilakukan di masing-masing rumah tersebut meliputi sampah kertas, plastik, logam, dan organik.
Selain di tiap rumah, tempat sampah umum yang tersedia di dusun itu juga sudah menerapkan pemilahan sampah. Terdapat 17 tempat sampah umum yang tersebar di lima RT. Sampah dari 286 KK di Dusun Pakem kemudian akan ditampung di 17 titik dan setiap pekannya akan diangkut dan dikumpulkan di TPSM.
Gerakan tersebut dilakukan pasca banyaknya warga Dusun Pakem yang terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) pada 2009 silam. Kondisi lingkungan yang kotor dan banyak mengundang penyakit itu akhirnya menggugah kesadaran warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih.
“Pada waktu itu, buang sampah sembarangan sudah jadi hal biasa. Bahkan setiap kali musim hujan, banyak sampah yang masuk ke lahan pertanian karena terbawa aliran air dari saluran irigasi. Maka tidak heran jika banyak permasalahan yang ditimbulkan dari sampah,” jelas Gunandar.
Kendati mengundang keprihatinan warga, namun solusi permasalahan sampah melalui tempat pengolahan sampah mandiri belum mendapat sambutan hangat dari warga. Baru pada 2012 setelah mendapatkan perhatian dari pemerintah desa Tamanmartani dan Pemkab Sleman, kegiatan pengolahan sampah tersebut dapat berjalan optimal.
“Edukasi pengolahan sampah secara mandiri ini dilakukan secara bertahap kepada warga bahkan sempat belajar di Dusun Sukunan Sleman yang lebih dulu mengelola sampah mandiri, hingga akhirnya kemudian seluruh warga terlibat dalam kegiatan ini. Karena tanpa dukungan warga kegiatan ini tidak akan berjalan,” tutur Gunandar seraya menambahkan masih ada sekitar 5 persen warga yang belum melakukan sodaqoh sampah karena mereka memilih membayar melalui truk sampah keliling dari DPU.
Setelah ditampung di TPSM, sampah non-organik kemudian akan dijual untuk di daur ulang setiap bulan sekali, sementara untuk sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos. Sebagian keuntungan penjualan sampah tersebut digunakan sebagai kegiatan di Dusun Pakem dan sebagian lainnya digunakan untuk pengembangan pengolahan sampah.
“Hanya sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti bekas lampu neon kami serahkan pengolahannya kepada DPUP Sleman,” tambah Gunandar.
Selain dimanfaatkan untuk didaur ulang, pengolahan sampah tersebut juga memberi manfaat bagi kelompok Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Sampah-sampah yang tidak dapat dijual kemudian dimanfaatkan sebagai kerajinan rumah tangga seperti tas, bantal, dan dompet. Kerajinan itu kemudian dijual oleh kelompok sebagai cindera mata yang hasilnya dapat menambah pendapatan keluarga.


