Sekolah Lansia untuk Membentuk Lansia Smart

Sleman – Jumlah proporsi lansia di Indonesia mencapai 10,5 % dari jumlah penduduk Indonesia, artinya 35 juta penduduk adalah lansia dan jumlah akan terus bertambah. Jumlah tersebut memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit degeneratif seperti penurunan fungsi tubuh, emosi dan kesepian. Untuk mencegahnya, lansia dituntut untuk Smart yaitu sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat. Perlu adanya upaya pencegahan dan pembinaan secara non formal bagi lansia, terutama dalam aspek kesehatan, spiritual dan sosial.

“Lansia harus kita jaga agar mendapatkan layanan kesehatan. Juga mendapatkan pembinaan dengan mengacu pada PHBS dan tujuh dimensi lansia tangguh,” ujar Kepala BKKBN Propinsi DIY, Andi Ritamariani, pada peresmian dan Launching Sekolah Lansia Kalimas Ayu di Kayunan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (19/8/2023).

Andi menyampaikan, Yogyakarta sendiri memiliki angka harapan hidup dan tingkat kebahagiaan tertinggi di antara wilayah yang ada di Indonesia.

“Untuk itu harus kita jaga bersama dengan bergandengan  tangan untuk kesinambungan kegiatan sehingga DIY menjadi lansia yang sehat dan tangguh,” tukasnya.

Salah satunya adalah melalui kegiatan Sekolah Lansia Kalima Ayu Kayunan ini. Ia berharap kegiatan Kalimas Ayu bisa menjadi rujukan kegiatan bagi pembinaan Lansia dari wilayah lainnya.

Ketua Posyandu dan Sekolah Lansia Kalimas Ayu Titik Winarti, menjelaskan bahwa ide awal pendirian Kalimas Ayu berawal dari obrolan dengan salah satu pegiat masyarakat, Wasingatu Zakiyah, terkait dengan lansia.

Gayung bersambut, saat yayasan Al Bayan Ponpes Barokah Kalimasada memiliki tanah wakaf yang harus dikelola di Kayunan.  Salah satu kegiatan yang direncanakan untuk pengelolaan tanah wakaf itu adalah kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Untuk itu, di tanah wakaf tersebut didirikan Sekolah Lansia Kalimas Ayu.

“Melihat  permasalahan yang ada di wilayah Kayunan dan Watugethek ada 70 lansia, 98% belum melakukan skrining kesehan dan 94% masih produktif untuk itu perlu dilakukan deteksi dini tentang kesehatan melalui posyandu,” ujar Titik

Titip menuturkan, Kayunan juga memiliki potensi SDM yang cukup besar  untuk mendukung beridirinya sekolah lansia.

“Di antaranya adanya 3 bidan, 5 perawat, 1 dokter umum, 2 mahasiswa kedokteran dan banyaknya kader, sukarelawan kesehatan yang bersemangat.  Maka gayung bersambut untuk mendirikan posyandu dan sekolah lansia yang diberi nama Kalimas Ayu ( kelompok lansia mandiri ayem sehat bahagia kayunan watugetheg),” terangnya.

Titik juga menjelaskan bahwa Kalimas Ayu juga bekerjasama dengan UGM, UII, Unriyo dan UMY untuk menyusun langkah langkah berikutnya sehingga sekolah lansia dapat terwujud.

“Untuk prospek dan pengembangan ke depan pemerintahan desa donoharjo dapat memfasilitasi dan membina pos yandu tsb dan juga bekerjasama dg kelompok posyandu yg ada di wilayah sekitarnya untuk mengikuti sekolah lansia. Kerjasama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan pihak pihak terkait juga sangat kami harapkan,” tukasnya.

“Semoga ke depan kegiatan ini dapat terus berkembang dan memberikan kemanfaatan bagi banyak orang,” harap Titik.

Pembukaan Kalimas Ayu sendiri diisi dengan pemeriksaan gigi, pemeriksaan gula darah serta senam untuk lansia itu, menghadirkan praktisi kesehatan Dr dr Probo Suseno, dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

Dalam kesempatan tersebut, Probo memaparkan tentang risiko penyakit yang rawan muncul pada lansia. Menurutnya, penyakit yang berisiko besar timbul adalah penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, seperti  infeksi paru, pnemonia atau radang paru, kencing manis (DM), dan hipertensi.

“Penyakit lain yang sering ditemui pada lansia adalah penyakit yang ditimbulkan karena psikis, kesepian dan tumbuh pikiran yang tidak baik, juga gangguan tak bisa berak. Agar tidak banyak permasalahan maka perlu dihimpun dan diisi dengan sekolah lansia. Sekolah lansia memiliki ilmu yang luas,” jelas Probo. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: