Potret Pengabdian Syahrir Herman Suseno, Seorang Seniman Macapat Asli Sleman

Sleman – Tidak mudah untuk bertemu dengan Syahir, seorang Seniman yang sibuk. Dirinya aktif dalam berbagai kegiatan, baik sosial dan tentu saja kesenian, khususnya seni suara Macapat. Macapat adalah tembang tradisional Jawa yang sangat populer, dibawakan dengan laras tertentu dan syairnya biasanya berisi tuntunan hidup, budi pekerti atau memuji keagungan Tuhan. Tembang ini bisa dilakukan secara solo ataupun bersama-sama dan tanpa iringan gamelan.

Adalah Syahrir Herman Suseno, seorang Pelaku Seni Macapat yang berasal dari Kabupaten Sleman. Perjalanan hidupnya sejak remaja sudah bergelut dengan seni. Diawali bergabung dengan kelompok tari di Magelang, ia kemudian mengikuti seni ketoprak, sebuah sandiwara tradisional Jawa. Dari ketoprak ia kemudian mengenal seni dialog dan tembang. Kemudian ia pernah mendirikan perkumpulan ketoprak di dusunnya. Dia juga pernah menekuni wayang orang.

Ketika ditemui di rumahnya di Desa Mardikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Senin (21/8/2023), pensiunan guru SD itu bercerita bahwa ia pernah membawakan lakon Abimanyu, Arjuna dan Gareng. Ketua grup Macapat Kapanewon Tempel yang berusia 71 tahun ini, tidak pernah berhenti dari seni. Ketika ia sudah pensiun, masih juga diminta untuk mengajar di sebuah sekolah dan atas bimbingannya grup Macapat di sekolah itu berhasil jadi juara beberapa kali.

“Bahkan setelah pensiun, masih ngajar,” katanya.

Ia seringkali dimintai membimbing para penembang Macapat yang akan bertanding di perlombaan. Penggiat seni yang Takmir masjid ini juga menciptakan banyak tembang. Salah satu tembang ciptaannya guna mengenang tempat pengabdiannya sebelum purna tugas, berisi pitutur bahwa dalam meraihcita-cita.

“Seseorang harus selalu teguh dalam keimanan, berperilaku luhur budi dan santun serta hati-hati dalam setiap langkahnya,” ungkapnya mengenai salah satu karyanya, Sekar Dandanggula.  (Sadhono Hadi/KIM Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: