Sleman – Kesulitan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman dalam memberantas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar makin bertambah lantaran sikap antipati warga terhadap lingkungannya tinggal. Bahkan tak jarang warga lebih memilih membuang sampah rumah tangganya dengan memanfaatkan jasa pengangkut sampah.
“Memang lebih praktis, tapi belum menjamin kebersihan lingkungan. Padahal solusi untuk memberantas keberadaan TPS liar adalah dengan pengelolaan sampah mandiri oleh masyarakat”, ungkap Kabid Kebersihan dan Pertamanan BLH, Indra Darmawan, Rabu (11/2).
Kendati demikian lanjut Indra, hal tersebut berlaku pada kasus TPS liar yang dibuat oleh warga sendiri. Indra mengatakan BLH tinggal mendorong warga untuk menginisiasi pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM).
“Seperti TPS liar di Tridadi, masyarakat didorong untuk membentuk KPSM. Setelah diberi pembinaan, sedikit demi sedikit TPS liar tidak digunakan lagi,” katanya menjelaskan.
Hal tersebut berbeda dengan TPS liar yang muncul di wilayah tertentu namun pembuangnya bukan dari warga setempat. Untuk menutupnya, pihaknya harus melibatkan masyarakat di sekitar TPS liar tersebut.
“Ini yang sulit, karena warga tidak merasa ikut menggunakan sehingga muncul rasa enggan dari warga. Padahal dalam menanggulanginya harus melibatkan KPSM juga. Sehingga kami merangkul pengurus Dusun, Desa, hingga Kecamatan untuk membentuk,” ujarnya.
Indra menyebutkan KPSM di bawah binaan BLH terdapat sekitar 130 kelompok di 17 kecamatan. Jumlah tersebut tidak seimbang dengan okupasi sampah di wilayah Sleman yang terus mengalami penambahan setiap tahunnya.
“Per orang menghasilkan 2,65 liter per hari. Jumlah ini dikalikan dengan sekitar 1,1 juta penduduk Sleman, belum lagi jika ditambahkan pendatang. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya,” paparnya.


