Sleman memiliki banyak peninggalan sejarah seperti situs bekas pabrik gula, rel kereta api, candi, hingga para tokoh pejuang kemerdekaan. Kekayaan sejarah yang bernilai tinggi itu harus digali dan ditulis untuk pendokumentasian kekayaan budaya. Dokumen bisa berupa esai kesejarahan yang enak dibaca khalayak.
Hal tersebut disampaikan oleh Anas Mubakkir, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman dalam Workshop Penulisan Esai Kesejarahan bagi siswa SMA/SMK/MA di Joglo Winata, Puri Mataram Resto, Senin (25/09). “Workshop ini memberikan dasar-dasar penulisan ilmiah dan pasti bermanfaat saat adik-adik kuliah. Kami berharap selesai acara ini segera memperbaiki esai yang sudah dikumpulkan,” ucap Anas.
Salah satu narasumber, Hasto Sutadi dari SKH Kedaulatan Rakyat, memaparkan penulisan kesejarahan dari aspek jurnalistik. Menurutnya, selain berisi 5W+1H, tulisan juga dilengkapi hasil reportase dasar serta news analysis yang berdasarkan data.
Ia juga menyampaikan bahwa tantangan dalam menulis esai kesejarahan adalah menggali informasi. “Penulis harus memiliki trik dengan pendekatan humanis saat melakukan wawancara dengan narasumber untuk mendapatkan data,” papar Hasto.
Sementara Kuncoro Hadi, Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNY yang menyajikan materi tradisi lisan dalam penulisan kesejarahan menyebutkan bahwa etika moral dalam penulisan tradisi lisan harus dijunjung tinggi.
“Berempatilah kepada narasumber saat melakukan wawancara, dengarkan dengan serius, empati, dan simpati untuk menggali informasi, tetap obyektif dalam menulis berdasar data yang diperoleh,” papar Kuncoro.
Peserta workshop tersebut terdiri dari siswa-siswi SMA/MA/SMK se-Kabupaten Sleman, khususnya yang sudah mengirimkan naskah lomba penulisan esai kesejarahan. Peserta yang sudah mengirimkan naskah kemudian diundang untuk mengikuti workshop penulisan esai kesejarahan. Hasil penulisan esai tersebut nantinya akan dinilai, dibukukan, dan diterbitkan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)


