Sumur Warga Maguwoharjo Ikut Tercemari Sampah

Sleman – Keluhan air sumur yang tercemari sampah di TPS liar di Dusun Sempu Desa Wedomartani Kecamatan Ngemplak Sleman juga disampaikan warga Dusun Banjeng, Desa Maguwoharjo Kecamatan Depok. Warga dusun yang berada di selatan TPS liar tersebut justru sudah merasakan dampak pencemaran sejak lima tahun terakhir. Namun lantaran TPS liar itu berada di luar wilayahnya, warga memilih diam.“Warga sebenarnya sudah jengah, namun warga di sini (Banjeng) hanya bisa menegur saja. Sementara lokasinya sudah berbeda desa,” ungkap Wati (30) warga setempat saat ditemui wartawan, Jumat (6/3).

Menurutnya, awalnya terjadi pencemaran warga mengira sumur mereka tercemar oleh septic tank. Warga sempat menggeser sumur namun hasilnya tetap sama, air yang keluar berwarna kecoklatan dan berbau.

“Dugaan paling kuat, sumber pencemaran berasal dari tumpukan sampah di TPS liar yang mencapai belasan meter di dalam tanah. Karena lokasi Dusun Banjeng berada di daerah yang lebih rendah dibanding TPS liar, maka air tanah yang tercemar meresap ke sumur-sumur warga,” kata dia menjeleskan.

Guna mengatasi hal ini, warga kemudia berinisiatif untuk beralih dari sumur gali ke sumur suntik. Namun pembiayaan yang harus dikeluarkan cukup besar lantaran kedalaman sumur mencapai puluhan meter agar mendapatkan air bersih.

“Ada yang gagal juga, karena airnya sudah tercemar. Rata-rata warga membuat sumur suntik hingga 20 meter, dengan biaya sekitar Rp 200 ribu per lima meternya pada saat itu,” ujar Wati.

Sementara warga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di Dusun Sempu, Desa Wedomartani, Ngemplak juga mengeluhkan air sumurnya yang tercemar oleh sampah. Air sumur warga berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Tidak hanya itu, air yang disedot melalui pompa air itu juga berbau busuk seperti tumpukan sampah yang terendam air.

Menurut salah satu warga, Dodi (50) kondisi tersebut terjadi sejak lima bulan bulan terakhir. Atas kondisi ini, anggota keluarganya takut untuk memanfaatkan air yang diambil dari sumur walau sekedar untuk mandi.

“Airnya sudah tidak layak. Padahal selama dua tahun saya tinggal di sini tidak pernah ada masalah dengan air,” paparnya.

Ia menjelaskan awalnya air tidak berubah warna namun hanya mengeluarkan bau yang tidak terlalu menyengat. Namun selang tiga hari, air yang sudah berbau itu tiba-tiba berubah warna menjadi cokelat pekat.

“Saat itu musim kemarau, air sumur sedikit menyusut dan tiba-tiba berubah menjadi coklat pekat dan baunya menyengat. Sejak saat itu saya membeli air untuk memenuhi kebutuhan,” ungkapnya.

Sedang Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman telah menutup paksa TPS liar tersebut, Kamis (5/3). BLH menilai keberadaan TPS liar tersebut telah mencemari lingkungan sekitar. Penutupan tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari warga sekitar setelah TPS liar beroperasi bertahun-tahun.

image_pdfimage_print
Bagikan: