Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya jumlah kasus DBD cenderung meningkat pada awal tahun 2015 ini.
Catatan Dinkes Sleman, pada periode Januari 2015 terjadi 54 kasus DBD. Jumlah kasus tersebut meningkat menjadi 161 kasus hingga Februari 2015. Dari jumlah kasus yang ditangani, terdapat satu penderita meninggal dunia pada Januari lalu. Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes mengatakan setiap awal tahun merupakan periode rentan terjangkitnya penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti itu.
“Kasus masih terus dihitung, bisa saja ada tambahan. Memang polanya cenderung meningkat pada pergantian tahun, di akhir dan awal tahun,” kata Linda dikantornya, Jumat (6/3).
Menurut Linda, kecenderungan tersebut dipengaruhi oleh puncak musim hujan yang terjadi pada pergantian tahun. Kondisi iklim yang lembab dan suhu lingkungan yang cenderung sejuk pada puncak musim hujan sangat kondusif bagi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti.
“Polanya cenderung naik karena dipengaruhi oleh lingkungan yang kondusif. Sehingga kembang biak jentik sangat cepat dan memperbanyak populasi nyamuk demam berdarah,” paparnya.
Selain iklim, peningkatan DBD juga dipengaruhi kepadatan penduduk. Hal tersebut dapat dilihat dari daerah terjangkitnya DBD di Sleman yang merupakan daerah padat penduduk, antara lain Kecamatan Gamping, Godean, Depok, Mlati, dan Kalasan.
“Nyamuk Aedes aegypti membutuhkan darah manusia sebagai nutrisi untuk perkembangbiakan,” katanya.


