Sleman – Bertempat di Pondok Pesantren Darussalam Dusun Somokaton Kalurahan Margokaton Seyegan, Senin (19/2/2024), Puskesmas Seyegan mengadakan imunisasi Polio dossis ke-2 bagi bayi, balita dan anak dengan maksimal usia 8 tahun kurang 1 hari.
Penyelenggaraan imunisasi polio tahap 2 ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan imunisasi polio tahap 1 pada tanggal 15 Januari 2024 yang lalu. Jarak pelaksanaan imunisasi tahap 1 ke tahap ke 2 ini minimal 28 – 30 hari.
Dengan dibantu pamong Kalurahan, anggota BPKal, Linmas dan Babinsa/Babinkamtibmas kegiatan imunisasi berjalan dengan lancar dan terkendali. Hal ini dikarenakan peserta imunisasi mematuhi jadwal yang telah diberikan oleh Kalurahan secara tertib. Dengan membawa foto copy Kartu Keluarga, kartu KIA dan Kartu Imunisasi Polio, peserta dengan tertib melakukan pendaftaran dan skrining yang dilanjutkan dengan pemberian imunisasi polio.
dr. Reni Anjas Asmarani, Kepala Puskesmas Seyegan yang mendampingi tim medis dari Puskesmas menyampaikan bahwa target 770 anak yang akan diimunisasi untuk Kalurahan Margokaton akan terpenuhi.
“Hal ini mengingat respon yang positif dari lembaga pendidikan seperti PAUD, TK dan SD. Demikian juga dengan masyarakat yang dijaring melalui kegiatan posyandu mempunyai animo yang tinggi untuk imunisasi polio pada anaknya,” ujar Reni.
Seperti diketahui bahwa di Provinsi DIY, hanya Kabupaten Sleman yang mengadakan Imunisasi Polio secara massal. Hal ini terkait erat dengan kasus yang terjadi di Kabupaten Klaten yang terjadi lumpuh layuh pada anak usia 7 tahun.
“Meskipun 1 penderita polio, pemerintah menetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa),” tukasnya.
Reni menambahkan karena secara orbitasi Klaten berdekatan dengan Sleman sehingga menjadi daerah dengan resiko tinggi untuk penularan penyakit polio. Untuk itulah kegiatan imunisasi polio dilakukan.
“Target dari Dinas Kesehatan Kabupaten sendiri adalah 95 %, namun kenyataannya di Kapanewon Seyegan sendiri telah melampaui target yaitu mencapai 99 %,” jelas Reni.
Reni menyampaikan juga bahwa kegiatan imunisasi polio ini juga perlu dievaluasi meskipun pasca imunisasi dossis 1 yang lalu tidak ada laporan mengenai balita dan anak yang mengalami diare atau mual sebagai efek samping dari imunisasi polio.
“Namun demikian kesempatan tersebut digunakan juga untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” pesannya.
Seperti diketahui bahwa penularan penyakit polio ini melalui feses atau tinja, sementara di masyarakat kita, masih banyak yang membuang kotoran atau pampers di sembarang tempat termasuk di badan air (sungai).
“Hal Inilah yang perlu diedukasi kepada masyarakat mengingat penyakit polio penularan sangat cepat,” jelas Reni lagi.
Diakhir penjelasannya, Reni juga melakukan strategi menghadapi kegiatan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) mengingat bersamaan dengan pemberian vit A dan obat Cacing. Untuk pelaksanaan pemberian vit A dilakukan disela sela imunisasi polio dossis 1 dan 2, sedangkan pemberian obat cacing akan dijadwal kembali. Pada pelaksanaan Imunisasi polio dossis 2 ini juga dihadiri oleh Panewu Seyegan dan Kawat Sosial. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


