Gunung Kidul Kulik Proses Pembangunan Balai Budaya Tamanmartani

Kalasan – Kalurahan Budaya Karangrejek, Wonosari, Gunung Kidul melakukan kunjungan studi tiru proses pembangunan Balai Budaya Kalurahan Budaya Tamanmartani, Kalasan, Sabtu (9/3/2024). Rombongan terdiri dari Perangkat Kalurahan beserta Pengurus Pengelola Kalurahan Budaya, dipimpin Lurah Karangrejek Supramonco dan didampingi Tim Monitoring dan Evaluasi Pendamping Budaya wilayah Gunung Kidul, CB. Supriyanto. Tim langsung menuju Balai Budaya Tamanmartani yang terletak di Padukuhan Jongkangan dan diterima Ulu-Ulu, Pangripta dan Tim Monev Wilayah Sleman.

Lurah Karangrejek, Supramoncoo ketika menyampaikan sambutan mengatakan, kunjungan ke Tamanmartani bertujuan ingin belajar dan mendapatkan keterangan mengenai proses pembangunan Balai Budaya dari awal hingga selesai.

“Termasuk sistem pengerjaanya serta kendala yang dihadapi. Sampai saat ini Kalurahanya telah menyiapkan lahan yang cukup untuk area Balai Budaya, tetapi pembangunan belum dilaksanakan,” tutur Supramonco.

Terkait hal-hal yang berkaitan dengan proses pembangunan Balai Budaya itu, Ulu-Ulu Tamanmartani Muhammad Murudin menjelaskan, Tamanmartani ditetapkan sebagai Kalurahan Budaya di akhir tahun 2021, aktifitas Kalurahan Budaya mulai tahun 2022. Pada saat itu Kalurahan Budaya mbuat dua proposal, yaitu untuk permohonan Gamelan dan Balai Budaya. Seiring dengan itu pemerintah Kalurahan menyiapkan lahan seluas kurang lebih 7000m2 di Padukuhan Jongkangan. Posisi persis di utara Jongkangan dan berdampingan dengan Padukuhan Tegalrejo. Pada tahun 2022 Gamelan sudah diterima, sementara untuk Balai Budaya diperoleh tahun 2023 yang peletakan batu pertama dilakukan oleh Paniradya Pati pada 22 Mei 2023.

Lebih lanjut  Murudin menjelaskan, pembangunan dilaksanakan dengan sistim swakelola. Cara itu ditempuh agar pemberdayaan masyarakat Tamanmartani dapat lebih optimal. Pasalnya Penyedia Material termasuk Kayu sebagai bahan baku adalah warga Tamanmartani, demikian pula dengan tenaga ahli dan tenaga pelaksana lapangan. Nilai bantuan yang bersumber dari Dana Keistimewaan sebesar Rp.2,3 M.

“Untuk bangunan paket lengkap yang terdiri dari Bangunan Pendapa bentuk Joglo, Dalem Ageng, kuncung,  Gandok Kiwo dan Gandok Tengen. Dilengkapi dengan kamar mandi. Pada bangunan Dalem Ageng terdapat tiga ruang , bangunan sela dan ruang Gamelan,” terang Murudin.

“Sementara untuk Gandok baik Kiwa maupun Tengen juga terdapat beberapa ruang yang bisa digunakan untuk rias. Pengerjaan selama enam bulan dan diresmikan pada 20 November 2023 lalu oleh Sekda DIY dan dihadiri GKR Hemas,” imbuhnya.

Murudin menjelaskan, dari area seluas 7000m2, untuk komplek Bangunan Balai Budaya sekitar 2000m.

“Selebihnya akan dipergunakan untuk area perkemahan dan edukasi lapangan. Maka fasilitas umum juga sudah mulai dipersiapkan pembangunannya, bahkan penanaman pohon penghijauan/perindang sudah dilakukan,” terang Murudin lagi.

Sementara itu terkait pemanfaatan Balai Budaya, Tim Monev Pendamping Budaya Kabupaten Sleman Joko Saptono menuturkan, setelah diresmikan balai budaya langsung digunakan untuk aktifitas masyarakat, yaitu untuk latihan anak didik sanggar tari, untuk macapat, karawitan dan gladhen Jathilan.

“Kedepan akan dibuat agenda rutin yang bisa melibatkan masyarakat, pelaku seni dan UMKM. Untuk fasilitas penunjang berupa sound sistem lengkap dan tripod sudah dalam proses perencanaan,” tutupnya. (Tri Joko S/KIM Kalasan)

image_pdfimage_print
Bagikan: