Sleman – Untuk lebih memperkenalkan bahasa dan sastra, khususnya Panatacara Bahasa Jawa di kalangan generasi muda, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kapanewon Tempel menyiapkan program pelatihan panatacara yang akan diselenggarakan dalam bentuk pertemuan rutin setiap lapanan.
Dalam rangka menyamakan persepsi dari pengurus DPC PPY Tempel kepada warganya , diadakanlah Rapat koordinasi antara pengurus dengan warga anggota DPC PPY Tempel.
Hadir dalam kesempatan ini pengurus DPC PPY Tempel, perwakilan anggota, serta didukung penuh dari pemerintah Kalurahan Mororejo selalu tuan rumah diadakannya acara ini pada Kamis (23/5/2024).
Dalam sambutannya Sih Budi Daryanto, selalu Ketua DPC PPY Tempel mengatakan, pelatihan panatacara yang akan diselenggarakan bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada para generasi muda bagaimana melestarikan bahasa dan sastra Jawa.
“Guna menindaklanjuti program pelatihan panatacara kali ini, mulai bulan depan akan diadakan pelatihan rutin untuk semua warga PPY baik anggota biasa ataupun siapa yang berminat untuk belajar dan mendalami keterampilan olah basa dan sastra khususnya di bidang kepanatacaraan,” ungkapnya.
Dalam pelatihan rutin nantinya semua peserta akan diberi materi pelajaran teori dan praktek. Beberapa hal yang disampaikan diantaranya soal bagaimana menjadi panatacara yang baik, mulai dari tata cara busana hingga penggunaan bahasa Jawa Kromo Hinggil.
“Harapannya upaya pembinaan, pengembangan, pelestarian bahasa dan sastra khususnya Panatacara bahasa Jawa semakin diminati oleh generasi muda,” imbuh Sih Budi.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Lurah Mororejo Jaka Ristanta, yang menyambut baik adanya pelatihan rutin yang sudah diprogramkan tersebut.
“Harapannya dengan adanya PPY Tempel dapat dijadikan wadah atau sarana untuk belajar penggunaan kata atau kalimat sebagai Panatacara atau MC bahasa Jawa, bisa dimulai dari pamong Kalurahan hingga jajaran paling bawah sehingga kehadiran PPY di Kapanewon Tempel dapat dirasakan dan membawa manfaat,” demikian ungkap Jaka Ristanta
Seperti diungkapkan oleh salah satu peserta rapat, Muryana, bahwa acara pelatihan panatacara sangat perlu dikembangkan sehingga akan tercipta para panatacara muda.
“Syukur – syukur penggunaan tatanan bahasa Jawa kromo Hinggilnya bagus, dan siap terjun menjadi panatacara, baik untuk acara hajatan maupun acara budaya di lingkungan kalurahan,” ucap pria yang biasa disapa Mbah Mur ini. (sbd_kimtempel)


