Bupati Sleman Serahkan Penghargaan Kepada 10 Penulis Toponimi

Sleman – Anak-anak remaja perlu tahu dan memahami sejarah pedukuhan di sekitar mereka tinggal.  Setiap pedukuhan memiliki adat, kebiasaan maupun tradisi, keunikan serta aneka permainan tradisioal khas.   Untuk itulah, penting diusahakan agar semua itu terdokumentasikan dalam buku toponimi atau sejarah asal-usul nama pedukuhan.

“Kami mengapresiasi Kundha Kabudayan yang telah menyelenggarakan lomba film documenter, bersama para juri mendampingi anak-anak dalam proses produksi film,” kata Kustini Sri Purnomo Bupati Sleman saat memberikan sambutan pada Pemberian Penghargaan Lomba Film Dokumenter Tingkat Kabupaten Sleman Sabtu (25/5/2024) di Lapangan Denggung Sleman. Produksi film dokumener tersebut tidak lepas dari buku Toponomi sejarah asal usul nama pedukuhan yang diterbitkan Kundha Kabudayan Sleman. 

Hingga saat ini Kundha Kabudayan Sleman sudah menerbitkan 2 jilid buku toponimi, mendokumentasikan 65 pedukuhan dari 1200 pedukuhan yang ada.  Sementara penulisan toponimi jilid 3 saat ini masih berlangsung. 

Kundha Kabudayan memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) penulis toponimi, yang tulisannnya diangkat menjadi film documenter.  Kesepuluh penulis adalah para anggota Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman.  Penghargaan diserahkan langsung oleh Kustini Sri Purnomo Bupati Sleman, didampingi Edy Winarya kepala dinas.  

Berikut sepuluh penulis Para penulis yang mendapat apresiasi beserta tulisannya, V. Maria Murwaningsih (Kwagon, Kisah Kyai Batu Liman), Edy Suparyanto (Cemoroharjo, Dahulu Berupa Hutan Cemara yang Subur), Indriyani Voluntiri Azis (Balong, Kisah Leluhur dari Rawa Lumpur), Eti Daniastuti (Beteng, Ada jejak Trunojoyo), Latief Noor Rochman (Sentono, Permukiman Bangsawan dan Abdi Dalem), Sri Purwatining Handayani (Tangisan, Kisah Gadis dalam Kentheng Batu), Ngatilah (Panggungan, Pos Pengamatan Proyek Keraton), Warsiti (Karanganyar, Dahulu Ada Sendang di Tengah Hutan Aren), Erlina yuliastuti (Klero, ada Jejak Demak Bintoro), dan Praba Pangripta (Glagahwero, Dahulu Berupa Hutan Glagah yang luas).

Para anggota Pasbuja Kawi Merapi lainnya merasa bangga dan turut mengapresiasi.  Seperti yang diungkapkan Maria Widi Aryani, “Toponimi ikut memantik generasi muda untuk mencintai dan tahu asal usul tanah leluhurnya dengan membuat film dokumenter. Keren! Ajang lomba seperti ini harus terus ada,” paparnya. 

Sementara Budi Sardjana, Pengurus Pasbuja yang juga novelis menyatakan buku toponimi semangkin menantang, dan semangkin berbobot.  Budi berpesan kapada para anggota Pasbuja untuk tetap rendah hati dan terus belajar agar semakin maju.  (Edy /KIM Sumber Biwara Moyudan)

image_pdfimage_print
Bagikan: