Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman berencana menggiatkan pelatihan kepada para relawan bencana untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan penanggulangan bencana.
“Setidaknya sudah ada dua kejadian, relawan dievakuasi ketika melakukan pertolongan di waktu bencana dalam tiga tahun terakhir ini di Sleman,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Sleman, Heru Saptono, kemarin.
Menurut Heru, pelatihan kepada para relawan ini memang harus dilakukan secara berkesinambungan. Berkaca dari kejadian berupa pertolongan kepada relawan yang sedang melakukan evakuasi saat bencana, memang harus terus ditingkatkan kemampuan mereka.
“Keterampilan dalam evakuasi atau penyelamatan, memang harus ditingkatkan. Mudah-mudahan bisa dalam waktu dekat diadakan pelatihan,” katanya.
Heru juga mengharapkan setiap relawan tidak hanya mempunyai keterampilan masalah teknis saja. Namun juga dalam manajerialnya. Sehingga ketika dalam melakukan evakuasi, jangan menyepelekan risikonya. Heru menambahkan pelatihan relawan ini setiap tahunnnya selalu ada. Baik dalam navigasi darat ataupun air. Karena di wilayah Kabupaten Sleman terdapat hujan serta sungai. Serta ancaman dari
aktivitas Gunung Merapi.
“Pernah kami lakukan latihan navigasi darat di Gunung Merapi. Beberapa anggota `rescue` dilatih mencari suatu titik di dalam hutan. Selain itu juga navigasi air. Mengingat ancaman terjadinya bencana di sungai juga ada, seperti banjir lahar dingin, atau orang tenggelam,” tutur Heru.
Heru mengatakan kejadian evakuasi terhadap relawan di Sleman ini, tercatat saat bencana puting beliung di Kalasan pada Desember 2012 silam. Saat orang relawan terjatuh dari pohon, dan harus dirawat di rumah sakit. Kemudian, peristiwa kedua pada Maret 2015 lalu. Saat bencana puting beliung menerpa di Kecamatan Tempel dan Turi. Seoran relawan dari komunitas Peduli Merapi jatuh dari pohon juga ketika melakukan evakuasi.
Sementara itu, Kepala Seksi Operasional dan Kedaruratan, BPBD Kabupaten Sleman, Nugroho Utomo, mengatakan tugas relawan memang sangat dekat dengan risiko. Untuk itu, perlu adanya bekal yang memadai dalam kemampuan “rescue”.
“Peningkatan kemampuan ini, memang sudah diagendakannya. Paling lambat, akan rutin diberikan pada tahun 2016. Namun, hanya diberikan kepada relawan yang memang berada di lapangan dan dapat dimobilisasi,” katanya.


