Upacara Suran Mbah Demang Peringati Perjuangan Kesejahteraan Masyarakat Modinan

Sleman – Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada leluhurnya, khususnya Mbah Demang Cokrodikromo yang dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah dan budaya Banyuraden karena telah melakukan perjuangan dalam usaha mensejahterakan masyarakat dusun Modinan, maka Pemerintah Kalurahan Banyuraden menggelar Upacara Adat Suran Mbah Demang.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu malam (13/7/2024) di Rumah Tabon Demang Cokrodikromo, dusun Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping tersebut dikategorikan upacara adat dan tradisi telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada tahun 2016 sering kali disertai dengan berbagai hiburan dan kegiatan seni untuk memperkaya budaya lokal dan memberikan hiburan bagi masyarakat.

Prosesi upacara adat diawali dengan pembagian Kendhi Ijo yang merupakan hidangan nasi beserta lauk pauk berupa aneka sayur mayur dan gudhangan bumbu tumbuk dibungkus dengan daun pisang yang berwarna hijau, dilanjutkan pembacaan tahlil di makam Mbah Demang. Kemudian di malam harinya dilakukan kirab pusaka, kitab, serta Gunungan Hasil Bumi dan Sayuran yang dikawal oleh Bregada Ranu Wira Patuk, Bregada Pesanggrahan, Bregada Wira Ndaga Kaliabu, Bregada Pamong Kalurahan Banyuraden, Bregada Trah Pati, Bregada Rukun Krida Muda Guyangan, Bregada Banyu Sembada Banyumeneng, Bregada Turangga Sumber Arum, Bregada Wira Reja Biru, serta dimeriahkan dengan penampilan berbagai ragam kesenian seperti Ogoh-Ogoh dan Hadroh.

“Keteladanan Ki Demang Cokrodikromo menjadi suri teladan dalam hidup bermasyarakat karena banyak perbuatan baik yang dilakukan bagi masyarakat, serta memiliki sifat belas kasih kepada siapa saja. Melalui upacara adat ini saya berharap seluruh warga masyarakat dan pamong dapat menyatu demi mendukung pembangunan di Banyuraden,” tutur Hj. Kustini dihadapan peserta kirab.

Pemberangkatan peserta kirab dilakukan oleh Bupati Sleman, Hj. Kustini Sri Purnomo bersama Lurah Banyuraden, Sudarisman usai melepas sepasang burung merpati putih dan menyebarkan ‘Udik-Udik’ berupa beras kuning dan uang logam yang dapat diperebutkan masyarakat sebagai tanda bahwa Demang Cokrodikromo suka memberi sedekah kepada orang lain dan setiap pemberiannya dipercaya dapat menjadi berkah bagi yang menerima bahkan dipercaya sebagai jimat tolak balak.

Turut hadir dalam kirab antara lain Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid, Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, Wadanramil 17 Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, Perwakilan Kepolisian Sektor Gamping, serta Lurah Banyuraden, Sudarisman yang didampingi seluruh Pamong Kalurahan Banyuraden.

Lebih lanjut, Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping menyatakan pihaknya mengapresiasi terhadap pelaksanaan upacara adat tahunan ini guna melestarikan tradisi dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, serta mengajarkan kepada generasi muda mengenai nilai-nilai budaya, sejarah, dan tradisi lokal yang sangat berharga.

“Suran Mbah Demang ini juga menjadi sarana untuk menjaga identitas budaya lokal menjadi semakin kuat karena melibatkan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kebersamaan dan rasa memiliki di tengah arus modernisasi yang semakin kuat,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: