Sleman – Ditemui di kediamannya, di kawasan Pulowatu, Kalurahan Purwomartani, Kapanewon Pakem kabupaten Sleman, Jumat (23/8/2024), Sukamto, seorang tokoh Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang aktif di dunia pendidikan menuturkan tentang filosofi dan berbagi pengalaman tentang sepak terjangnya di dunia pendidikan sekolah dasar.
Selain pendidikan, pria yang biasa disapa Kamto ini juga mengungkapkan kecintaannya di dunia pencerahan rohani terutama pendalaman terhadap penyebaran dakwah agama Islam khususnya di wilayah Kapanewon Pakem dan di kabupaten Sleman pada umumnya. Kamto juga seorang aktivis dan jurnalis yang aktif sebagai ketua di Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Pakem.
Pria kelahiran Sleman,17 Mei 1959 ini pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Kradenan 3 periode tahun 2008-2012 kemudian pindah menjadi Kepala Sekolah di SDN Srumbung 2, hingga pada akhirnya kembali lagi menjadi Kepala Sekolah SD Negeri Kradenan 3 karena diminta oleh Komite Sekolah sampai pensiun ditahun 2018.
Awal terjun sebagai pendidik, menjadi seorang guru reguler di SD Negeri Sutopati 1 Kajoran dari tahun 1978-1981, kemudian dimutasi ke SD Negeri Sudimoro 1 Srumbung.
“Sampai akhirnya diangkat menjadi Kepala Sekolah di SD Negeri Sudimoro 2 Srumbung tahun 1999 – 2008, hingga akhirnya dimutasi lagi ke SDN Kradenan 3 pada tahun 2008,” kenangnya.
Dalam menjalankan tugasnya baik sebagai tenaga pendidik ketika masih mengajar sampai menjadi kepala sekolah dan dalam menjalankan aktivitasnya bersama dengan KIM Pakem, Kamto mengakui bahwa dirinya selalu memegang prinsip dan mengajarkan tentang etos kerja 4 As yang menjadi pedomannya.
“Tidak cukup hanya dengan kerja keras tetapi etos kerja yang selalu saya pegang dan coba ajak kepada anggota KIM Pakem atau pada saat dulu masih menjadi kepala sekolah atau mengajar adalah bekerja dengan cerdas, tuntas, ikhlas dan kualitas,” ungkap Kamto/
“Kebanyakan dari kita biasanya bekerja terjebak dengan rutinitas, atau ada istilah orang Jawa Napak Kebo perhatikan oleh Saudara kerbau kalau jalan tiap hari tidak pernah pindah, selalu melewati jalan yang setiap hari dilewati. Pentingnya kerja cerdas yaitu kita dituntut untuk lebih kreatif dan menghadirkan inovasi sehingga kita bisa bekerja lebih efektif. Agar pinsip kerja cerdas terus berkesinambungan kita harus membudayakan kebiasaan membaca, baik itu ketentuan-ketentuan yang berlaku dimana kita bekerja, atau membaca buku, ataupun media lain yang mendukung pekerjaan kita,” tambahnya.
Dibagian akhir pembicaraannya, Bapak dari 2 anak ini menjelaskan bahwa dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita dibutuhkan kesungguhan, fokus, konsistensi dan kesabaran, sehingga akan diperoleh hasil sesuai dengan yang telah ditargetkan.
“Banyak kegagalan dalam hidup ini, itu dikarenakan kita tidak menyadari betapa dekatnya kita dengan keberhasilan pada saat kita menyerah. Jangan sampai kita menunda-nunda pekerjaan karena akan berdampak negatif terhadap penilaian dibiasakan membuat target waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu sehingga kita akan lebih fokus dalam bekerja,” ujarnya.
“Dan untuk bisa ikhlas butuh proses dan waktu yang tidak sebentar, dibutuhkan ilmu tauhid yang kuat agar kita ikhlas dalam beribadah, dimana bekerja merupakan bagian dari ibadah. Jangan sekali-kali kita mengharapkan pujian dari makhluk dalam beribadah, karena kita akan sakit hati pada saat kita tidak mendapatkan pujian dari makhluk,berharaplah untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT sehingga kita akan terus-menerus memperbaiki kualitas kerja dan ibadah kita, termasuk ibadah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita,” jelas Kamto lagi.
“Yang namanya kerja ikhlas itu tidak harus diawasi secara terus-menerus akan tetapi bekerja sesuai dengan tanggungjawabnya, itulah yang sering kita dengar yang dinamakan pengawasan melekat.Dan itulah makna kerja secara kualitas,” tutupnya. (sbd_kimtempel)


