Sleman – Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menggelar workshop penulisan cerita rakyat. Acara tersebut berlangsung pada hari Minggu (15/9/2024) bertempat di aula kantor Dinas Kebudayaan ( Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.
Diikuti oleh 25 peserta anggota Pasbuja Kawi Merapi, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Suhindriya Pengurus Pasbuja Kawi Merapi Sleman dan Redaktur di majalah Joko Lodang Yogyakarta. Selain itu juga menghadirkan Nyadi Kasmorejo pakar penulis cerita.
Sutopo Sugihartono, Ketua Pasbuja Kawi Merapi Sleman dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada anggota Pasbuja Kawi Merapi yang dengan gigih dan semangat tanpa mengenal lelah untuk memberikan kontribusinya kepada Pemerintah Kabupaten Sleman untuk menulis tentang budaya Sleman.
Lebih lanjut ia juga berharap kegiatan tersebut bisa menjadi program S3 ( Sekolah Sastra Sleman) bagi Pasbuja.
“Workshop ini merupakan salah satu kegiatan sekolah sastra Sleman, dan ini merupakan kegiatan ke dua, yang sebelumnya pernah diselenggarakan workshop menulis cerita anak,” ujarnya.
Suhindriya dalam materinya memaparkan bahwa secara teori teknis penulisan mencakup empat gaya yaitu ekposisi, diskripsi, argumentasi dan narasi, tetapi yang paling tepat untuk menulis cerita rakyat adalah naratif. Gaya penulisan naratif lebih mengedepankan cerita.
“Sebagai kisah kepada pembaca, penulis perlu membangun suasana sehingga pembaca terdorong untuk membaca sampai tuntas,” tutur Suhin.
Sedangkan Nyadi Kasmorejo menyampaikan tentang ciri-ciri dan fungsi cerita rakyat. Ciri-ciri Cerita rakyat adalah lisan yaitu dari dan oleh siapa cerita tersebut diperoleh. Ciri lainnya adalah melestarikan budaya dan mengandung nilai luhur.
“Sedangkan fungsi cerita rakyat adalah sebagai sarana pendidikan, sarana hiburan, memerankan nilai luhur dan melestarikan nilai budaya,” ungkap Nyadi. (Giek/KIM Moyudan)


