Sleman – Dinas Kabudayan Kabupaten Sleman meluncurkan buku Toponimi Seri 3 yang berjudul Nyi Beruk Naik Gerobak ke Dawangsari, di joglo 2 Desa Wisata Brayut Pendowoharjo, Sleman,Rabu (25/09/2024).
Peluncuran dilakukan oleh Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Ignatius Eko Febrianto. Pada kesempatan itu, Ignatius mengapresiasi dan berterima kasih kepada penulis, pendamping, dan semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku tersebut.
“Buku ini penting, dibutuhkan masyarakat, dan sangat bermanfaat untuk mengetahui cerita dibalik nama padukuhan. Buku toponimi seri 2 kemaren ada 10 yang sudah dijadikan film dokumenter dan dilombakan,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Sleman, Ita Kurniawati dalam laporannya menyampaikan bahwa buku Toponimi berjudul Nyi Beruk Naik Gerobak ke Dawangsari ini memuat 30 padukuhan, dan ditulis oleh 30 penulis yang tergabung dalam Pasbuja Kawi Merapi Sleman. Adapun tujuannya adalah untuk mendokumentasikan cerita lisan tentang asal usul penamaan padukuhan sebagai wujud pelestarian dan pemajuan obyek kebudayaan.
Tidak hanya dirilis, pada kesempatan itu Kunda Kabudayan Sleman juga membedah isi buku tersebut. Moderator dalam kegiatan bedah buku itu ialah perwakilan FIB UGM, Wiwien Widyawati Rahayu. Sementara yang berperan sebagai narasumber ialah Muhammad Qadhafi yang membedah buku dari perspektif sastra, dan Yulianto Ibrahim yang mengulas dari sisi sejarah.
Lebih lanjut, Qadhafi menyampakan ulasannya bahwa buku tersebut disajikan dalam bentuk feature, alur cerita dan tokoh didapat dari cerita lisan yang diubah menjadi sastra tulis oleh masing-masing penulisnya.
“Apapun dan bagaimanapun isinya yang bersumber dari cerita lisan, tetapi di kemudian hari buku ini bisa menjadi fakta, dan 100 tahun yang akan datang bisa jadi dianggap sebagai naskah kuno,” ujarnya.
Adapun Yulianto Ibrahim dalam mengupas isi buku tersebut mengklasifikasikan asal usul nama padukuhan yang berkaitan dengan tokoh, peristiwa, nama nama benda, pohon atau tanaman, dan lain-lain. Dikatakan, aspek sejarah telah tertuang dalam isi tulisan. Menurutnya, cerita lisan yang diingat masyarakat selalu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa besar, seperti masa Brawijaya 5, Sunan Kalijaga, dan perang Diponegoro.
“Sejarah padukuhan sebagai identitas dan jati diri bangsa, dan mencerminkan sosio kultural masyarakat di dalamnya. Hal ini dapat dikembangkan sebagai aset wisata yang baik dengan menggali potensi-potensi yang ada,” pungkasnya. (Eny Ms/KIM Sembada Sleman)


