Sleman – Mendekati musim kemarau, distribusi air bersih bagi warga Prambanan mengalami hambatan. Hal ini lantaran pipa saluran yang mengalirkan air bersih dari resevoir di daerah setempat mengalami kebocoran. Kondisi tersebut membuat distribusi air bagi masyarakat yang terdampak kekeringan setiap tahunnya itu terhambat. Hal tersebut dikhawatirkan warga akan kembali merasakan dampak kekeringan di tahun ini meski sistem resevoir air bersih sudah dibangun di daerah itu.
Organisasi Pengelola dan Pemakai Air (OPPA) Prambanan menemukan 15 titik kebocoran di sistem resevoir III di wilayah Desa Gayamharjo. Kebocoran terjadi disebabkan dinding pipa yang keropos karena karat.
“Itu baru di satu wilayah saja. Untuk menghadapi kemarau di tahun ini, kami melakukan pengecekan pada pipa-pipa saluran yang menuju bak penampungan warga,” ungkap Mujimen, Ketua OPPA Prambanan, kemarin.
Menurutnya dengan adanya kerusakan tersebut, warga di daerah distribusi tidak teraliri lantaran sampungan yang terputus. Kondisi ini dipengaruhi letak pipa berdiameter 4 hingga 8 inchi yang berada di daerah perbukitan batu sehingga rawan terdampak longsor.
“Selain itu, pipa-pipa yang ada di pemukiman warga riskan untuk terputus lantaran banyak yang melintang di jalan. Saat ini kami sedang memetakan mana saja yang terputus,” paparnya.
Total warga yang menjadi sasaran pendistribusian air bersih dibawah pengelolaan OPPA sekitar 5.890 KK di lima desa di Prambanan. Desa-desa tersebut antara lain Gayamharjo, Sumberharjo, Wukirharjo, Bokoharjo, dan Sambirejo.


