Sleman – Pengajian dengan tema ‘Bijak Bermedia Sosial’ digelar di Pendhapa Kekandhangan, Dusun Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Minggu sore (10/11/2024) dengan menghadirkan Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna, Adnan iman Nurtjahjo sebagai penceramah.
Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama dengan komunitas Bulan Sabit Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta ini dihadiri oleh puluhan jama’ah dari kelompok pengajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang mayoritas ibu rumah tangga yang berasal dari Dusun Patran yang tertarik untuk memperdalam pemahaman mengenai penggunaan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.
Dalam pengajian tersebut, Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan pentingnya umat Islam menjaga adab dan etika dalam bermedia sosial menggunakan berbagai platform seperti WhatsApp, Instagram, maupun Facebook.
“Media sosial bisa menjadi ladang pahala atau dosa, tergantung bagaimana diri kita menggunakannya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa seorang Muslim harus selalu bijak dengan menjaga lisan dan menghindari konten yang dapat menimbulkan fitnah atau perpecahan.
Lebih lanjut, Adnan menjelaskan bahwa media sosial jika digunakan secara bijak dapat menjadi sarana dakwah yang efektif.
“Sampaikan kebaikan, bagikan ilmu, tapi jangan sampai terpancing dengan hal-hal negatif yang justru merugikan kita dan orang lain,” imbuhnya.
Dirinya pun mengingatkan bahwa banyaknya informasi yang tersebar di dunia maya perlu diimbangi dengan kemampuan menyaring dan meneliti kebenaran berita sebelum membagikannya. Jika tidak berhati-hati maka seseorang dapat terjerat kasus hukum karena melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah perihal menjaga privasi. Adnan menegaskan bahwa membagikan informasi data pribadi di media sosial tanpa berpikir panjang bisa berdampak buruk. Pihak yang tidak bertanggungjawab seringkali dapat menyalahgunakan hal-hal pribadi yang kita unggah oleh karena itu jama’ah harus tidak mudah terbawa tren atau arus.
Pengajian juga membahas fenomena hoaks yang sering kali menyebar di media social karenanya para jamaah untuk selalu melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum menyebarkan informasi.
“Jangan sampai jari kita menjadi sumber fitnah. Allah SWT mencintai orang yang selalu berhati-hati dalam menyebarkan berita,” tutur Adnan dengan penuh semangat.
Di akhir ceramahnya, Ia memberikan beberapa tips praktis untuk menggunakan media sosial dengan bijak seperti berpikir dua kali sebelum menulis, saring sebelum sharing, dan hindari debat kusir. Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut perlu diingat setiap kali kita berinteraksi di dunia maya agar hubungan antar individu tetap harmonis.
Kegiatan ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa media sosial, jika dimanfaatkan dengan bijak, bisa menjadi sumber kebaikan dan inspirasi. Namun, sebaliknya jika tanpa kendali dan pemahaman maka media sosial dapat menjadi jalan menuju perpecahan. Pengajian ini menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya bijak bermedia sosial di tengah era digital yang semakin maju. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


