Warga Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman baru-baru ini melaksanakan upacara adat tingkeban atau mitoni, sebuah tradisi Jawa yang digelar untuk mendoakan keselamatan calon ibu dan bayi yang masih dalam kandungan. Acara ini diadakan di salah satu rumah warga dusun Sukunan, Jumat (22/11/2024) dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat setempat.
Upacara tingkeban biasanya dilakukan saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan. Dalam tradisi Jawa, angka tujuh memiliki makna spiritual yang mendalam, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. Di Kalurahan Banyuraden, upacara ini menjadi salah satu momentum untuk melestarikan nilai-nilai budaya sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.
Prosesi upacara adat tingkeban yang dilakukan sepasang suami istri, Nisa Daranurisma dan Sidik Nurwanto ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa. Doa tersebut diucapkan dengan harapan agar ibu dan bayi yang dikandungnya diberikan kesehatan dan kelancaran hingga proses persalinan. Setelah doa selesai, prosesi dilanjutkan dengan siraman sebagai salah satu ritual utama dalam tingkeban.
Siraman dilakukan menggunakan air yang telah diberi bunga tujuh rupa yang mencerminkan harapan akan kesucian dan keberkahan. Air siraman ini diambil dari tujuh sumber mata air yang berbeda sebagai simbol kemurnian. Dalam prosesi tersebut, calon ibu dimandikan oleh para sesepuh dan keluarga terdekat yang menandai pembersihan lahir batin menjelang kelahiran sang buah hati.
Selain siraman, prosesi tingkeban juga dimeriahkan dengan tradisi memecahkan kendi yang melambangkan harapan agar proses persalinan kelak berjalan lancar seperti air yang mengalir keluar dari kendi. Ritual ini disambut dengan tepuk tangan dan doa-doa penuh semangat dari para tamu yang hadir.
Acara semakin meriah dengan penyajian berbagai hidangan tradisional, seperti tumpeng, kolak, dan jajanan pasar. Hidangan tersebut tidak hanya menjadi sajian bagi tamu tetapi juga memiliki simbolis rasa syukur atas karunia yang diberikan. Tumpeng, misalnya, melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Sementara itu, Sulung Pramono selaku Ulu-Ulu Kalurahan Banyuraden dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada warga yang tetap menjaga tradisi leluhur. Menurutnya, tingkeban bukan sekadar acara adat saja tetapi juga wujud nyata syukur kepada Allah SWT sekaligus sebagai ajang memperkuat solidaritas antar warga dusun Sukunan.
“Upacara adat ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan generasi muda terhadap kekayaan budaya lokal,” tutur Sulung.
Banyak anak muda Banyuraden yang ikut terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan acara, mulai dari membuat dekorasi hingga membantu menyajikan hidangan. Hal ini diharapkan dapat menjaga kelestarian tradisi ini agar tetap hidup di masa mendatang.
Upacara tingkeban di Banyuraden ini menjadi salah satu bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat yang istimewa di tengah arus modernisasi. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan.
Sulung Pramono sebagai salah satu tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dalam pengelolaan budaya dan tradisi setempat menyebutkan bahwa upacara adat tingkeban merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai spiritual dan kearifan lokal yang diyakini dapat menjadi identitas budaya demi memperkuat karakter Kalurahan Banyuraden.
“Pelestarian tradisi seperti ini adalah bagian dari visi menjadikan Banyuraden sebagai rintisan desa budaya yang mampu menarik perhatian warga lokal dan wisatawan dari luar daerah,” imbuhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


