Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meresmikan bank sampah Sleman “Handayani” yang didirikan warga Panggung Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik Sleman, Senin (25/5). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemberian bantuan tong sampah oleh Bupati.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Drs Purwanto mengatakan bersamaan dengan peresmian bank sampah Handayani ini juga diundang jejaring seluruh pengelola sampah di Sleman. Karena Bank sampah Handayani akan dijadikan induk bank sampah mandiri di Sleman.
Disampaikan Purwanto bahwa dengan jumlah penduduk Sleman sebanyak 1,3 juta jiwa menghasilkan sampah 2,65 liter per hari dengan timbunan sampah 3200 meter kubik per hari. Dan dari sampah itu yang diangkut dengan armada menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hanya 427 meter kubik per hari.
“Dan sampah jenis apapun bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan,” kata Purwanto.
Sementara lanjut Purwanto, di Sleman ini ada bank sampah 29, transfer depo 13 dan tempat pengolahan sampah dari seluruh Sleman ada 6. Sehingga lanjut Purwanto peran masyarakat sangat penting dalam pengelolaan sampah. Sementara Ketua Bank Sampah “Handayani”, Sri Handayani mengatakan berdirinya bank sampah Handayani ini pada tahun 2013 dengan anggota sebanyak 120 orang.
Keberadaan bank sampah di Panggung ini terus disosialisasikan dan saat ini jumlah nasabahnya sudah mencapai 1300 nasabah sebagai anggota yang terdiri dari 996 individu dan sisanya kelompok. Hasil produksi pengolahan limbah berupa tas, dompet dan lainnya dengan pemasaran hasil mulai sampai Jakarta, Lampung juga Palembang.
“Berkat adanya bimbingan dari Kantor BLH Sleman, bank sampah Handayani teris meningkatkan jejaring pengelolaan bank sampah mandiri di Sleman,” kata Sri Handayani.
Sedang Bupati Sri Purnomo menyampaikan ucapan selamat untuk kelompok pengelola sampah Handayani yang mampu menjadi bank sampah secara mandiri dan menjadi induk jejaring pengelolaan sampah mandiri di Sleman.
Sri Purnomo juga mencontohkan saat ini masih banyak orang yang belum memiliki kesadaran dalam membuang sampah. Hal ini diketahui karena masih ada warga yang suka membuang sampah di jembatan.
Sri Purnomo juga meminta ilmu pengelolaan sampah mandiri ini bisa disampaikan kepada warga lainnya untuk bisa mengelola sampah dengan baik. Apalagi didaerah Sariharjo Ngaglik banyak tumbuh rumah makan sehingga masalah sampah mandiri harus semakin diperkuat. Pendampingan pengelolaan jejaring sampah di Sleman harus terus dilakukan.***


