Sleman – Mahasiswa semester V Angkatan 2022 Akademi Komunikasi Radya Binatama (AKRB) Yogyakarta yang berada di Kabupaten Sleman menggelar malam screening film dokumenter di Bento Kopi Sorowajan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (8/2/2025). Acara ini merupakan puncak dari mata kuliah Produksi Dokumenter, menampilkan 10 karya yang dinilai dalam empat kategori: penyutradaraan, sinematografi, editing, dan karya terbaik.
Dewan juri terdiri dari Sari F. Nainggolan (penyutradaraan), Antonius Janu Haryono (sinematografi), Fadeyanto Prabowo (editing), serta Ghalif Putra Sadewa (karya terbaik), yang semuanya merupakan dosen AKRB Yogyakarta.
Salah satu film dokumenter yang menarik perhatian adalah Menambang Langit, yang diproduseri oleh Rimawati dengan sutradara Titah Tifani Tamaya. Film ini melibatkan Axel Lelaki Prasetya sebagai penulis naskah, Muhammad Ryan Alghamar sebagai penata kamera dan suara, serta Alfan Alfian sebagai penyunting gambar dan asisten kamera.
Film ini dinobatkan sebagai dokumenter terbaik kedua dan mengangkat kisah Sri Wahyuningsih, pemilik Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Berawal dari kegelisahan seorang wanita terhadap konflik air, dokumenter ini menyoroti pentingnya menghargai air sebagai sumber daya yang tak tergantikan.
Menambang Langit menggambarkan perjuangan masyarakat di daerah kering menghadapi krisis air bersih serta inovasi dalam pengelolaan air secara berkelanjutan. Dengan visual yang menarik dan narasi yang kuat, film ini mengajak penonton untuk merenungkan bagaimana manusia memperlakukan sumber daya air.
Sri Wahyuningsih, yang akrab disapa Bu Ning, dalam film ini memperlihatkan bagaimana air hujan dapat dikelola secara mandiri untuk mengatasi kekeringan di musim kemarau. Ia mengedukasi masyarakat agar tidak membiarkan air hujan terbuang sia-sia dan memanfaatkannya dengan bijak.
“Salah satu pesan utama dalam Menambang Langit adalah bahwa air bukan sekadar komoditas, tetapi anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak,” ujarnya.
Film ini juga menyoroti perilaku boros terhadap air, yang masih dianggap sebagai sumber daya tak terbatas oleh banyak orang. Selain itu, dokumenter ini mengkritik kebijakan yang lebih berpihak kepada industri besar dibandingkan kepentingan masyarakat kecil. Eksploitasi sumber daya air oleh perusahaan besar sering kali menyebabkan ketimpangan distribusi, di mana masyarakat setempat mengalami kekurangan sementara sektor industri menggunakannya secara berlebihan.
Lebih dari sekadar film dokumenter, Menambang Langit menjadi sebuah seruan untuk bertindak. Dengan berbagai contoh nyata yang ditampilkan, film ini menginspirasi individu, komunitas, dan pemerintah untuk mencari solusi dalam pengelolaan air yang lebih bijaksana.
Harapannya, kegiatan screening film dokumenter di AKRB Yogyakarta dapat terus berkembang dan mencetak sumber daya manusia unggul di bidang perfilman serta industri kreatif. Melalui karya-karya mereka, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai tantangan sosial di masa depan. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


