Sleman – Ainaya Nurfadila, mahasiswi jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) memilih Komunitas Banyu Bening Sleman sebagai tempat menyelesaikan tugas akhir dan magangnya. Ia pun menjadi peneliti pertama dari UNNES yang tertarik dengan pengelolaan air hujan yang dilakukan oleh komunitas yang beralamat di Tempursari, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.
Program magang ditujukan untuk menghubungkan ilmu sosiologi dan antropologi dengan praktik nyata dalam pengelolaan sumber daya air. Mahasiswa diharapkan dapat mengamati, menganalisis, dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan komunitas, seperti pembuatan sistem penampungan dan pengolahan air hujan, edukasi lingkungan, serta advokasi kebijakan lokal terkait pengelolaan air.
Salah satu fokus utama Ainaya dalam magang ini yaitu mempelajari pola interaksi sosial dalam pengelolaan air hujan. Hal tersebut Ia katakan saat melakukan observasi terhadap cara masyarakat setempat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian air di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamis (13/2/2025). Untuk melengkapi datanya dilakukan wawancara dengan warga dan pengurus komunitas guna menggali lebih dalam tentang tantangan serta solusi yang telah diterapkan.
Di bawah bimbingan Sugianto selaku Volunteer Banyu Bening yang mengajarkan berbagai teknik pengelolaan air hujan, Ainaya mempelajari berbagai teknik pengelolaan air hujan menggunakan cara-cara sederhana namun efektif untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai air minum dan terapi kesehatan.
“Magang adalah kesempatan berharga untuk belajar, mengembangkan keterampilan, serta mengaplikasikan teori ke dalam praktik nyata dari dunia pendidikan,” kata Sugianto.
Adapun salah satu momen yang paling berkesan bagi Ainaya yaitu saat berbincang dengan Sri Wahyuningsih sebagai pendiri Komunitas Banyu Bening dan Sekolah Air Hujan. Mengingat, magang di Komunitas Banyu Bening memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat tantangan lingkungan dari perspektif lokal. Mereka menyadari bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan tidak bisa hanya berbasis teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.
“Air hujan, jika diproses dengan benar, tidak hanya aman untuk dikonsumsi, tetapi juga berkualitas tinggi,” terang Kamaludin selaku Kepala Sekolah Air Hujan.
Pengalaman magang di Komunitas Banyu Bening memberikan Ainaya banyak pelajaran berharga tentang pengelolaan air hujan dan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam. Ia belajar bahwa air hujan adalah salah satu sumberdaya alam yang harus dijaga, dan dengan pemahaman serta teknologi yang tepat, masyarakat bisa memanfaatkannya secara bijaksana untuk kehidupan sehari-hari.
Komunitas Banyu Bening telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dan perubahan pola pikir dalam menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dengan alam. Ainaya pun berharap dapat membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya itu ke kampus, untuk menginspirasi mahasiswa UNNES lainnya, agar lebih peduli terhadap berbagai isu lingkungan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


