Pentingnya Menjaga Martabat Lewat Keterampilan Berbahasa dan Sastra Jawa

Sleman – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, budaya lokal sering kali terpinggirkan. Namun, di berbagai upacara adat dan perhelatan tradisional, masih ada satu profesi yang tetap menjaga martabat budaya yakni panatacara sebagai penjaga nilai, estetika, dan etika Jawa.

Dalam tradisi Jawa, panatacara memiliki kedudukan penting lantaran menjadi representasi kehormatan suatu acara. Baik dalam hajatan mantenan, mitoni, tedhak siten, hingga pengajian budaya, panatacara memainkan peran sebagai pengarah suasana. Semuanya ditentukan oleh kemampuannya dalam bertutur kata menggunakan bahasa Jawa yang benar dan tepat.

Untuk membekali para pemuda dengan keterampilan menggunakan bahasa Jawa sesuai unggah-ungguh basa, termasuk memahami tingkatan bahasa, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman mengundang 25 anggota Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman. Sebagai narasumber pada hari kedua pelatihan panatacara yang digelar di Joglo Witana Puri Mataram, Selasa (20/5/2025) Tri Sarjuli selaku anggota Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman menyampaikan materi mengenai tataran bahasa Jawa. Sedangkan materi persiapan dasar sebagai panatacara dan pamedhar sabda dipaparkan oleh Yuana Agus Dirgantara.

Sarjuli pada kesempatan itu mengungkapkan bahwa bahasa Jawa bukanlah sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk menunjukkan rasa hormat, kedalaman budi, dan keluhuran tata krama. Di dalamnya terdapat tingkatan bahasa yakni ngoko lugu, ngoko alus krama lugu, dan krama alus atau krama inggil yang menuntut ketelitian dan kepekaan dalam penggunaannya.

“Seorang panatacara harus tahu kapan menggunakan krama inggil, dan kapan boleh memakai ungkapan yang lebih akrab menggunakan ngoko,” jelasnya.

Panatacara yang ideal pun harus paham mengenai kekayaan sastra Jawa dan tidak hanya berhenti pada penguasaan tingkat tutur saja. Menurut Sarjuli, adanya karya sastra memberikan warna dan kekuatan spiritual dalam sebuah perhelatan. Misalnya, kutipan tembang macapat seperti Pangkur, Sinom, atau Kinanthi mampu membangkitkan suasana haru, khidmat, atau penuh cinta kasih, sesuai konteks acaranya.

Selanjutnya, penguasaan bahasa dan sastra Jawa sangat membantu panatacara berimprovisasi saat terjadi hal-hal tak terduga. Seperti menenangkan hadirin dengan humor halus dalam bentuk tembung saroja (pantun Jawa), maupun menunda waktu dengan cerita berbobot dari serat Wulangreh atau Wedhatama. Hal ini merupakan seni yang hanya dapat dilakukan bagi panatacara yang menguasai khazanah sastra Jawa secara mendalam.

Sayangnya, tidak sedikit panatacara muda yang kini lebih mengandalkan naskah baku atau skrip hasil salinan dari internet tanpa memahami makna di balik kata-kata tersebut. Akibatnya, terjadi pengucapan yang keliru, penggunaan tingkat bahasa yang tidak tepat, bahkan kehilangan rasa dalam bertutur kata.

Selain itu, panatacara harus terus mengasah rasa estetikanya. Karenanya, tidak cukup hanya membaca teks saja, melainkan harus menghidupkan suasana menggunakan ekspresi, intonasi, dan pilihan kata yang mencerminkan rasa hormat sekaligus keindahan.

“Inilah yang membedakan panatacara dari sekadar MC biasa,” tandas Sarjuli. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: