Sleman – Dalam rangka diplomasi budaya, kontingen Kabupaten Sleman siap menampilkan seni peragaan pada perhelatan Misi Kebudayaan ke Dalam dan Luar Negeri, yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah.
Tahun ini, kontingen Kabupaten Sleman mendapat kesempatan menampilkan seni peragaan busana dengan tajuk ‘Sinjang Matram’. Di mana, gladi bersih sekaligus pelepasan kontingen dilaksanakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Khunda Kabudayan) Sleman, Edy Winarya, di Balai Budaya Kalurahan Tamanmartani, Rabu (21/5/2025).
Gladi bersih ini juga dihadiri oleh Tim Monev Kalurahan Budaya, Tri Joko dan Kamituwa Tamanmartani, Awan Parades itu. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman dalam sambutanya berpesan agar para pelaku seni kontingen Kabupaten Sleman dapat tampil secara optimal.
“Karena dipundak kontingen itulah tersirat mandat serta kepercayaan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sleman. Tampilan dengan maksimal, tunjukkan kemampuan berekspresi karena prestasi merupakan cermin harga diri,” kata Edy.
Sementara, Kepala Seksi Seni Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Bowo Laksono menyampaikan kegiatan tersebut merupakan program tahun 2025 dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan seni budaya bangsa Indonesia, khususnya kesenian tradisional Kabupaten Sleman.
“Untuk itu Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman memacu dan memberikan ruang kreasi bagi seniman. Di samping itu juga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan wawasan kebangsaan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.
Dalam penampilan yang dijadwalkan berlangsung tanggal 23 sampai 24 Mei 2025 di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Kontingen Kabupaten Sleman menampilkan kemasan seni peragaan busana, yang didukung sepuluh pelaku seni dengan Sutra Dara Feri Catur Harjanto.
Dikisahkan, sinjang (Jarik) merupakan warisan Kerajaan Mataram. Sinjang merupakan kain panjang bermotif batik yang digunakan masyarakat Jawa dalam kontek pakaian adat. Setiap motif pada sinjang mempunyai arti dan makna doa dan harapan. Hal itu tidak terlepas dari sejarah dan filosofi.
Pada misi kebudayaan tahu 2025 kontingen Kabupaten Sleman akan mengeksplorasi filosofi sinjang motif parang, truntum dan kawung yang secara keseluruhan bermakna kehidupan, cinta dan kebijaksanaan. Digambarkan pula karena motif batik tidak lekang oleh waktu. Dengan tetap memiliki arti nilai tradisional, mendapat sentuhan karya modern, motif batik tetap menjadi saya tarik generasi muda dan menjadikan pula sebagai gaya hidup masyarakat. (KIM Kalasan-Tri Joko S)


