Sleman — Sabtu pagi pukul 06.00 WIB, Alun-alun Denggung mulai terlihat bersih. Meski masih ada sisa sampah di sudut lapangan dan sepanjang jalan, para petugas kebersihan telah mulai menyapu dan mengangkut tumpukan sampah sejak sebelum fajar.
Salah satu dari mereka adalah Eko, pria paruh baya yang tengah memindahkan sampah ke dalam bak roda. Ia mengaku sudah berangkat dari rumahnya di sekitar Jembatan Krasak, sekitar 10 kilometer dari lokasi sejak subuh.
“Hari Sabtu dan Minggu kami harus berangkat lebih awal karena banyak warga yang akan berolahraga,” tuturnya sambil mengusap keringat.
Malam sebelumnya, Alun-alun Denggung dipadati pedagang dan pengunjung. Namun, begitu aktivitas usai, banyak sampah plastik, styrofoam, dan botol bekas yang ditinggalkan begitu saja. Beberapa ekor kucing liar terlihat menyusup di antara tumpukan, sementara lalat-lalat beterbangan.
Fenomena ini mencerminkan rendahnya disiplin sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Banyak yang menganggap kebersihan sebagai urusan petugas semata, padahal tanggung jawab utama justru berada di tangan para pengguna ruang publik.
“Kalau semua orang membuang sampah pada tempatnya, pekerjaan kami jadi lebih ringan,” tambah Eko.
Upaya menjaga kebersihan membutuhkan kesadaran kolektif. Diperlukan lebih banyak tempat sampah yang mudah dijangkau, kampanye kebersihan rutin, serta kerja sama dengan komunitas olahraga dan pengguna rutin alun-alun. Bahkan, penerapan sanksi ringan atau denda administratif terhadap pelaku buang sampah sembarangan bisa menjadi solusi jangka pendek.
Petugas kebersihan adalah pahlawan pagi hari yang sering tak terlihat. Saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, mereka sudah memulai hari demi memastikan ruang publik tetap nyaman dan bersih.
Mereka pantas mendapat terima kasih, penghargaan, dan dukungan nyata bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi juga dari sikap bertanggung jawab atas sampah masing-masing.
Karena sejatinya, ruang publik yang bersih bukan hanya buah dari kerja keras petugas, tapi juga cerminan etika kolektif warganya. (Sadhono Hadi | KIM Tempel)


