Dua Jiwa Dalam Gerak, Membentuk Manusia yang Punya Hati

Sleman — Sanggar Banyu Bening menggelar pertunjukan tari terbuka menampilkan dua karya unggulan, yakni Tari Gebyar Muncar dan Tari Merak Sutera, di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Kabupaten Sleman, Sabtu sore. Karya-karya ini dipilih bukan hanya karena keindahan visual, melainkan kekuatan narasi dan emosi yang dapat dirasakan oleh semua penonton, termasuk yang awam terhadap tari.

Tari Gebyar Muncar dibawakan oleh Cinta Novella Rohana Tsania Putri, pelajar kelas 6 SD dari kelompok Baladewa 2, sementara Tari Merak Sutera ditampilkan oleh Cita Putri Aabida, siswa kelas 5 SD dari kelompok Srikandi. Keduanya dilatih oleh Ludtina Pangestu Eka Nur Utami dan Farid Nur Ramadani, sarjana seni tari dari Universitas Negeri Yogyakarta, serta Diky Rahmaditya Bagaskara dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Elizabeth Panti, koordinator sanggar, menjelaskan bahwa pembagian kelas tari di Banyu Bening berdasarkan kemampuan, bukan usia. Kelas pemula, Abimanyu 1, fokus pada pengenalan gerak dan musik, sedangkan Abimanyu 2 mengajarkan tari kreasi dasar seperti tari ikan dan tari kuthuk.

Lebih dari sekadar mengasah teknik, sanggar ini menekankan pembentukan karakter dan kemanusiaan melalui metode asah, asih, dan asuh. “Kami membentuk manusia yang punya hati, bukan hanya penari luwes,” ujar Elizabeth.

Atmosfer latihan di Banyu Bening terasa hangat namun disiplin, berbeda dari sanggar lain yang kaku. Anak-anak didorong untuk belajar dengan rasa aman dan empati, bahkan bisa mengekspresikan emosi tanpa takut salah.

Untuk mengukur perkembangan siswa, sanggar rutin mengadakan ujian kenaikan tingkat setiap enam bulan, dengan penilaian meliputi sikap, kedisiplinan, dan kemampuan menari. Ujian berikutnya dijadwalkan pada 21 Juni 2025.

Ujian tidak hanya menjadi tolok ukur teknis, tetapi juga pembentukan mental dan karakter, melatih keberanian dan rasa tanggung jawab siswa dalam menghadapi penilaian. Selain itu, ujian berfungsi sebagai penghargaan atas dedikasi dan motivasi siswa untuk terus berkembang.

Di tengah tren seni yang sering terjebak pada pencapaian dan popularitas, Sanggar Banyu Bening menegaskan bahwa seni adalah ruang pendidikan yang utuh. “Di sini, anak-anak belajar menari sekaligus belajar menjadi manusia,” tutup Elizabeth. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: