Sleman – Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada budidaya pertanian sangat penting dilakukan dalam upaya menjaga pertumbuhan tanaman, dan mendapatkan hasil panen yang maksimal. Materi pengendalian OPT ini disampaikan oleh Natali Dwi kepada KWT Bulu Makmur, dalam acara pelatihan pemanfaatan pekarangan, yang berlangsung di rumah Dukuh Bulu, Jogotirto, Berbah, Senin (2/6/2025).
Pada kesempatan itu, Natali menjelaskan bahwa OPT dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu hama tanaman, penyakit tanaman, dan gulma atau tumbuhan hidup yang tidak diinginkan.
“Hama tanaman adalah semua hewan yang mengganggu dan merusak tanaman yang dibudidayakan dan menimbulkan kerusakan. Seragan hama bisa dilihat dengan mata, seperti belalang, ulat , lalat buah, dan lainnya. Penyakit tanaman adalah kondisi dimana tanaman terganggu sehingga kualitas turun dan menimbulkan kerugian,” jelas Natali.
“Tanaman yang yang terkena penyakit akan kelihatan dampak kerusakannya. Namun organime pengganggu tidak kelihatan oleh mata biasa. Sedangkan gulma merupakan tumbuhan yang hidup tapi tidak diinginkan seperti rumput atau tanaman lain yang tidak di budidayakan,” sambungnya.
Natali menambahkan dalam upaya menghasilkan panen yang optimal, harus diiringi dengan upaya pengendalian hama terpadu (PHT). Metode ini dilakukan dengan budidaya tanaman sehat, meliputi pengolahan lahan yang baik dengan penjemuran tanah, pemberian pupuk kompos fermentasi, pengkondisian drainase, hingga penyiapan bibit yang sehat melalui pembibitan mandiri.
“Namun bila menggunakan bibit dari pembibitan orang lain, pemilihan bibit yang baik secara visual ditengarai dengan kondisi bibit yang tidak cacat, daun halus tidak berkerut, tidak tebal dan keras. Warna bibit hijau segar tidak kekuningan,” ujar Natali.
Selanjutnya dalam pengendalian hama penyakit, Natali menyarankan agar menggunakan musuh alami. Namun apabila menggunakan pestisida, dianjurkan menggunakan pestisida alami.
Apabila terpaksa menggunakan pestisida kimia, maka terdapat enam prinsip yang diterapkan, yaitu tepat sasaran, mutu, jenis, waktu aplikasi, dosis, dan cara penggunaan.
Natali menuturkan, pengendalian hama sejatinya dapat dilakukan dengan pemasangan mulsa, pemasangan perangkap, mekanis, sanitasi, pemupukan, pemanfaatan predator musuh seperti coccinella, SP, lana laba, penyemprotan pestisida nabati dan penyemprotan pestisida kimiawi.
“Pengendalian penyakit bisa menggunakan jamur Trichoderma SPP, menggunakan pupuk kandang fermentasi yang telah matang, mengurangi penggunaan pupuk urea, pergiliran tanam, pemakaian mulsa pengaturan jarak tanam, pemusnahan tanaman terserang, pemanfaatan PGPR atau pupuk hayati, perbaikan drainase dan penggunaan fungisida kimia,” jelasnya. (Kusnadi / KIM Berbah)


