Sleman – Di tengah kesibukan menjalani berbagai peran sebagai istri, ibu, pekerja, dan anggota masyarakat, perempuan kerap kali mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Padahal, ibu adalah pusat keluarga yang tidak hanya bertanggung jawab atas pengasuhan anak, tetapi juga menjadi penentu utama pola hidup sehat di rumah. Kesehatan ibu bukan hanya soal fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan keseimbangan mental, emosional, dan nutrisi.
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya kebugaran dan gizi seimbang bagi perempuan khususnya para ibu, maka Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden yang digawangi dr. H. M. Bambang Edi Susyanto menggelar edukasi dan sosialisasi bertemakan metode FITT dalam berolahraga dengan narasumber Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, dr. Rizky Triutami Sukarno, M. Biomed yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Rabu (4/6/2025).
Dalam paparannya, dr. Rizky mengatakan bahwa seorang ibu memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keluarga. Kebugaran jasmani menjadi aspek utama yang perlu diperhatikan setiap ibu. Tubuh yang bugar mendukung aktivitas sehari-hari yang padat, mulai dari mengurus rumah hingga mendampingi anak belajar. Tanpa kebugaran yang baik, kelelahan dan stres akan lebih mudah menyerang, mengganggu produktivitas dan kualitas hubungan antar anggota keluarga.
“Oleh karena itu, olahraga ringan seperti jalan pagi, yoga, atau senam bisa menjadi solusi sederhana namun efektif,” timpal dr. Rizky dihadapan peserta sosialisasi.
Namun kebugaran saja tidak cukup. Gizi seimbang adalah fondasi dari kesehatan yang menyeluruh. Banyak ibu lebih memikirkan menu sehat untuk anak dan suami, tetapi lupa memenuhi kebutuhan gizinya sendiri. Padahal, kebutuhan gizi perempuan dewasa, terutama yang sedang menyusui atau bekerja aktif, sangat penting untuk dipenuhi. Asupan seperti protein, zat besi, kalsium, vitamin D, dan serat harus masuk dalam menu harian ibu.
Gizi yang baik juga berdampak pada kestabilan hormon dan suasana hati. Konsumsi makanan bergizi seimbang membantu menjaga sistem kekebalan tubuh, mencegah anemia, osteoporosis, hingga risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Selain itu, ibu yang makan dengan pola sehat juga memberi teladan langsung bagi anak-anaknya dalam membangun kebiasaan makan yang baik sejak dini.
Di samping itu, aktivitas fisik yang teratur bukan hanya untuk menjaga penampilan, namun juga sebagai kunci kesehatan jangka panjang bagi semua kalangan usia. Ibu yang aktif secara fisik akan lebih bugar, sehat, dan mampu menjadi teladan serta penggerak keluarga sehat.
Adapun manfaat melakukan aktivitas fisik teratur antara lain meningkatkan kesehatan fisik dan mental, memperkuat otot dan tulang, mencegah dan mengelola penyakit tidak menular, meningkatkan kesehatan otak, meningkatkan kualitas tidur, membantu manajemen berat badan, serta membantu manajemen kesehatan guna menjaga fungsi tubuh tetap optimal dan memperlambat progres penyakit.
Agar aktivitas fisik teratur, terukur, dan bermanfaat, dr. Rizky memperkenalkan metode FITT (Frequency Intensity Time Type) untuk beraktivitas fisik. Frekuency berarti seberapa sering kita bergerak setiap pekan. Untuk mencukupi 150 menit per minggu, idealnya beraktivitas setidaknya 5 hari dalam seminggu.
Intensity menunjukkan seberapa keras tubuh bekerja saat bergerak. Time adalah lama waktu setiap sesi aktivitas. Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan total minimal 150 menit per minggu dan lama waktu tiap sesi bisa 10–60 menit sesuai kondisi. Sedangkan Type mencakup jenis atau bentuk latihan yang dilakukan. Sebaiknya gabungkan aktivitas kardiovaskular dan penguatan otot.
“Aktivitas kardiovaskular seperti berlari atau joging, baik untuk jantung dan mengontrol berat badan. Penguatan otot melalui push-up atau naik-turun tangga sebaiknya dilakukan dua kali seminggu, diakhiri dengan gerakan peregangan untuk menjaga kelenturan otot,” jelasnya.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu. Program kesehatan sering kali fokus pada anak dan lansia, padahal peran ibu sebagai jembatan antara keduanya justru sangat krusial. Ibu yang sehat akan lebih siap membawa anak ke posyandu, mengatur pola makan keluarga, hingga menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Sudah saatnya kita berhenti menganggap kesehatan ibu sebagai hal yang bisa dinomorduakan. Karena dari tubuh ibu yang kuat dan jiwa yang sehatlah, lahir keluarga yang bahagia, masyarakat yang maju, dan bangsa yang sejahtera. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


