Hadapi Perubahan Iklim, UGM Pasang Pemanen Air Hujan

Sleman – Sebagai bagian dari skema kolaboratif antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal dalam pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis lokal guna menghadapi tantangan perubahan iklim, mewujudkan ketahanan pangan, dan menjaga ketersediaan air bersih di kawasan rawan kekeringan, maka Tim Magister Manajemen Bencana (MMB) Universitas Gadjah Mada menggandeng Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kabupaten Sleman melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemasangan alat pemanen air hujan di salah satu rumah warga Dusun Pakel, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (5/6/2025).

Musim kemarau panjang selalu menjadi momok bagi warga Tepus, Gunungkidul. Wilayah yang dikenal kering ini seringkali kekurangan air bersih, memaksa sebagian warga membeli air dalam jeriken atau menempuh jarak jauh untuk mengakses sumber air. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar slogan akademik, tetapi tindakan nyata yang memberi dampak langsung bagi kehidupan warga.

Program desa/kalurahan binaan bertajuk ‘Optimalisasi Pemanenan Air Hujan Untuk Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat Dalam Mitigasi Bencana’ ini dipimpin oleh Retnadi Heru Jatmiko selaku Ketua Pengabdian, didampingi Dina Ruslanjari bersama tiga mahasiswa Magister Manajemen Bencana Universitas Gadjah Mada: Muhamad Irfan Nurdiansyah, Nabilla Auriel Fajarian, dan Silfani.

Dalam sambutannya, Retnadi menekankan bahwa kegiatan ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6, yaitu menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua, dan tujuan ke-13 yakni mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

“Kami melihat bahwa tantangan global terkait air dan pangan bisa dijawab dengan pendekatan berbasis komunitas seperti ini. Program ini menjadi upaya nyata dalam mendukung ketahanan air dan pangan masyarakat yang rentan terhadap bencana kekeringan,” terangnya.

Pemasangan alat pemanen air hujan ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Tim MMB Universitas Gadjah Mada tidak hanya datang membawa teknologi, tetapi juga melibatkan warga sejak tahap perencanaan hingga pemasangan. Warga diajak memahami pentingnya konservasi air dan cara merawat sistem yang dipasang. Proses ini bukan hanya soal membangun instalasi, melainkan membangun kesadaran kolektif akan kemandirian pengelolaan sumber daya air.

Adapun, materi sosialisasi diberikan oleh Sri Wahyuningsih selaku Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Tempursari, Kabupaten Sleman yang berfokus pada inovasi elektrolisis air hujan untuk konsumsi rumah tangga. Ia mengatakan bahwa masyarakat Tepus sebenarnya telah memanen air hujan, namun metode yang digunakan belum memenuhi standar kesehatan karena sebagian besar penampungan air hujan yang dilakukan masyarakat masih terbuka.

“Hal ini memungkinkan masuknya kotoran dan hewan kecil ke dalam air, sehingga air yang digunakan belum layak konsumsi,” ucap Wahyuningsih.

Sebagai bagian dari kegiatan edukatif, dilakukan pengambilan sampel air dari beberapa rumah warga. Hasil pengukuran Total Dissolved Solids atau jumlah padatan terlarut dalam air menggunakan TDS meter menunjukkan bahwa air dari Perusahaan Air Minum Dukuh memiliki nilai 229 ppm.Sementara air hujan yang ditampung oleh masyarakat berkisar antara 51-59 ppm.

Menariknya, air hujan yang telah melalui alat pemanen dan sistem elektrolisis dari Banyu Bening menunjukkan angka TDS jauh lebih rendah, yaitu hanya 15 ppm. Hal ini menunjukkan kualitas air yang sangat baik dan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 492/Menkes/Per/IV/2010, yang menetapkan ambang batas maksimal TDS untuk air minum adalah 500 mg/l.

Sementara, perwakilan mahasiswa MMB UGM, Muhamad Irfan Nurdiansyah mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat berharga baginya. Sekaligus berharap, usai pemasangan alat pemanen air hujan, warga semakin sadar pentingnya menjaga kualitas air tampungan agar aman untuk dikonsumsi. Selanjutnya dapat secara mandiri mengelola sistem ini, bahkan mereplikasinya ke rumah-rumah yang lain.

Tim pengabdian dari Universitas Gadjah Mada merencanakan program ini berlanjut hingga akhir tahun 2025 dengan kegiatan berupa serangkaian pelatihan, evaluasi dampak, dan publikasi ilmiah sebagai luaran berkelanjutan. Harapannya, melalui model partisipatif ini, Desa Tepus bisa menjadi percontohan nasional dalam upaya menjawab tantangan krisis air bersih di wilayah karst. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: