Hadroh Iringi Perayaan  Pentakosta  2025, Bukti Toleransi Beragama

Sleman – Kesenian musik hadroh ikut mengiringi pawai unduh-unduh yang digelar Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Maguwoharjo dalam rangka perayaan Hari Raya Pentakosta tahun 2025, Minggu (8/6/2025). Pawai dimulai dari Kopi Klotok, Jalan Diponegoro Maguwoharjo sampai GKJ Maguwoharjo.

Pelepasan pawai unduh – unduh dilakukan oleh Panewu Kapanewon Depok, Djoko Muljanto didampingi Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman, Edy Winaryo.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman secara simbolis melakukan panen pisang dan singkong sebagai simbol ngunduh atau panen hasil bumi untuk kelangsungan kehidupan bersama masyarakat.

Kirab pawai  unduh-unduh pun diawali dengan Bregodo Sambi Raharjo Sambilegi Maguwoharjo, didampingi tarian butho gedrug. Iringan bergodo tersebut diikuti dengan arak-rakan dua ekor kuda dari Polda DIY, masyarakat Manisrejo, tonti SMP Bobkri 3.

Kemudian disusul delapan mobil pick up berisi gunungan dari enam GKJ yang ada di wilayah  Maguwoharjo, dan dua gunungan dari masyarakat dan Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo. Adapun rute yang dilalui, mulai dari Kopi kKlotok kearah selatan sampai GKJ Maguwoharjo, dengan menempuh jarak sekitar 4 kilo meter .

Pada kesempatan itu, pendeta Heru Sumbodo mengucapkan terima kasih atas dukungan  dari  Pemkab Sleman, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas Sosial, Polda DIY, Kapanewon Depok, Kalurahan, Maguwohjo, dan masyarakat setempat.

“Kami mohon maaf dalam kegiatan pawai unduh – unduh banyak kekurangan serta  mengganggu pengguna jalan,” ungkapnya.

Adapun tema yang diangkat pada perayaan Pentakosta tahun 2025 adalah ‘Roh Kudus Selalu Menyatukan’. Dengan kesatuan yang kuat mewujudkan kebersamaan di tengah masyarakat  berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur.

“Supaya program pemerintah bisa berjalan sesuai amanah masyarakat. Karena kehidupan damai sejahtera boleh dinikmati semua orang. Dalam upaya membangun Sleman menjadi lebih baik,” ucap pendeta Heru.

Menariknya, dalam kirab tersebut ada iring-iringan musik hadroh sebagai bentuk toleransi antar umat beragama.  

“Dukungan musik hadroh dari warga muslim sebagai wujud toleransi antara umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Adapun pawai unduh – unduh merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas semua anugerah yang diberikan, baik dari hasil pekerjaan, panen sawah dan tegalan para petani, juga  hasil pekerjaan para pengusaha dan pegawai dalam berbagai lembaga dan bidang  manapun.

Selanjutnya, pendeta Heru pun menyampaikan bahwa sesuai tema Pentakosta tahun 2025  Roh Kudus Selalu Menyatukan, maka gereja bersama masyarakat mewujudkan satu kesatuan hidup.

“Dengan hidup guyup dalam kerukunan  toleransi yang baik supaya apapun yang menjadi harapan bersama dapat kita wujudkan secara bersama-sama,” pungkas pendeta Heru. (Kusnadi / KIM Berbah)

image_pdfimage_print
Bagikan: