Syiar Idul Adha Lewat Irama Takbir dan Kreativitas Umat

Sleman – Di tengah arus modernisasi dan budaya global, lomba takbir menjadi cara umat Islam menjaga identitas sekaligus menyampaikan pesan dakwah secara kreatif, damai, dan menggembirakan. Guna menyemarakkan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Gamping menggelar lomba dan parade takbir keliling sebagai wujud syiar Islam. Kegiatan ini bukan hanya ajang unjuk kreativitas, namun juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar warga dan kader Fatayat se-Kapanewon Gamping.

Parade lomba takbir yang berlangsung di lapangan Nur Iman Mlangi, Sabtu malam (7/6/2025) dimulai tepat setelah salat Isya. Para peserta bergerak beriringan menyusuri jalan kampung di seputar Mlangi dengan pengawalan dari Banser dan dukungan aparat keamanan setempat melewati dusun-dusun yang sebagian besar merupakan kawasan pesantren dan lingkungan warga Nahdliyyin. Bedug dipukul bergantian, pengeras suara mengumandangkan takbir, shalawat, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, sehingga menciptakan suasana spiritual yang menyentuh sekaligus menghibur.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua PAC Fatayat Gamping, Shobiroh Ulfa Kurniyawati mengatakan bahwa kegiatan malam ini sebagai bentuk nyata dari syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang digelorakan dengan semangat, kreativitas, dan kebersamaan. Menurutnya, melalui takbir keliling, umat muslim tidak hanya mengumandangkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga menanamkan semangat ukhuwah islamiyah dan rasa cinta kepada tradisi Islam Nusantara yang damai dan penuh nilai kebersamaan.

“Kami ingin menciptakan ruang-ruang ekspresi religius yang menyenangkan, mendidik, dan membangkitkan semangat generasi muda,” ujar Ulfa.

Masyarakat sekitar tampak antusias menyambutnya. Banyak warga berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan, bahkan tak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Anak-anak kecil pun ikut melompat-lompat di depan rumah, mengikuti irama takbir dan ketukan bedug. Kemeriahan dentuman bedug berpadu dengan takbir menciptakan atmosfer spiritual dan meriah sekaligus.

Ulfa menambahkan, lomba takbir keliling memperebutkan Trophy Bupati Sleman kali ini mengangkat tema ‘Takbir, Syiar dan Kebersamaan Dalam Semangat Idul Adha’ guna mengasah semangat dakwah dan kreativitas warga Fatayat.

“Kami ingin anak-anak muda Nahdlatul Ulama bangga dengan identitas keislaman dan kebudayaan lokal,” imbuhnya.

Lomba semacam ini penting untuk membentuk rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas keagamaan di tengah gempuran budaya digital dan sekularisasi. Penilaian lomba mencakup kekompakan, kreativitas, ketepatan syair, hingga pesan keislaman yang dibawa.

Setelah semua kelompok tampil dan parade selesai, dewan juri memutuskan kelompok takbir Pondok Pesantren Narju Syafa’ah sebagai Juara I dan berhak atas Trophy Bupati Sleman, Pondok Pesantren Nahdlatun Nisa sebagai sebagai Juara II, serta Pondok Pesantren Ar-Risalah Mlangi sebagai Juara III. Sedangkan Juara Harapan I diraih oleh Pondok Pesantren Al-Miftah Putri, dan Juara Harapan II diperoleh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara. Seluruh pemenang mendapatkan Trophy dan uang pembinaan.

Namun, kemenangan sejati malam itu bukan hanya milik para pemenang lomba. Bagi semua yang hadir, kebersamaan, semangat gotong royong, dan syiar Islam yang menggema menjadi nilai yang jauh lebih berharga. Gema takbir yang menggema di langit Mlangi malam itu menjadi penanda bahwa semangat Islam Ahlussunnah wal Jamaah tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: