Sleman – Kegiatan manasik haji merupakan program tahunan yang dirancang untuk mengenalkan rukun Islam kelima kepada peserta didik usia dini. Tidak hanya sebagai bentuk simulasi ibadah, manasik haji pun menjadi sarana pendidikan karakter dan pembentukan nilai-nilai spiritual.
Puluhan siswa dari KB-TKIT Bakti Insani Triharjo, Sleman mengenakan pakaian ihram mini serba putih untuk laki-laki dan berkerudung putih untuk perempuan. Mereka berkumpul mengikuti kegiatan manasik haji, menirukan prosesi ibadah haji dengan panduan dari para guru di halaman Masjid Agung Kabupaten Sleman Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Senin (9/6/2025).
Dengan penuh antusias, anak-anak memulai prosesi dari miqat, niat ihram, lalu dilanjutkan dengan thawaf mengelilingi replika Ka’bah sambil melantunkan talbiyah, ‘Labbaik Allahumma Labbaik’ mengikuti jalur yang sudah ditentukan. Para guru membimbing tiap kelompok dengan lembut, memastikan semua anak terlibat aktif dan memahami makna dari setiap tahapan ibadah.
Selanjutnya mereka melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah yang digambarkan dengan jalur berwarna biru dan hijau. Ada pula sesi melempar jumrah, di mana anak-anak diminta melempar batu kerikil ke arah tiga pilar replika yakni jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah secara berurutan.
Menurut Kepala Sekolah KB-TKIT Bakti Insani, Ustazah Kamilah, kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang dhuhur ini dirancang sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Dengan membawa siswa ke Masjid Agung Sleman, pihaknya ingin menghadirkan suasana religius yang lebih kuat dibandingkan di lingkungan kelas.
“Anak-anak belajar menghargai tempat ibadah, belajar berperilaku tertib, dan merasakan pengalaman spiritual di luar rutinitas sekolah,” terangnya.
Masjid Agung Kabupaten Sleman sendiri menjadi pilihan yang ideal karena kapasitasnya yang luas dan nuansa arsitektur islami yang mendukung. Ornamen kaligrafi, kubah besar, dan karpet masjid menambah kesan khidmat. Anak-anak seolah benar-benar sedang berada di Tanah Suci, meski dalam bentuk simulasi.
Lebih lanjut, bagi anak-anak kegiatan ini terasa seperti petualangan rohani. Mereka belajar bergiliran, mengantri, menghormati teman, dan mengendalikan emosi saat tidak bisa langsung berpartisipasi. Nilai-nilai seperti kesabaran, tanggung jawab, dan solidaritas secara tidak langsung mulai tertanam. Meskipun belum paham sepenuhnya, namun pengalaman ini akan mereka ingat hingga besar nanti.
Ustazah Kamilah menambahkan, lembaganya merancang kegiatan ini bukan hanya untuk tujuan spiritual saja, tapi juga sosial dan emosional. Melalui kegiatan kolektif seperti ini, anak-anak pun dilatih bersosialisasi dan memahami perbedaan karakter teman. Hal ini menjadi bagian dari strategi pendidikan kolaboratif antara sekolah dan keluarga.
Manasik haji ini adalah salah satu bentuk pembelajaran aktif yang tidak hanya meninggalkan kesan, tetapi juga makna. Karena merupakan refleksi nyata dari visi KB-TKIT Bakti Insani dalam membentuk anak yang sholeh, mandiri, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
Dengan semangat yang sama, KB-TKIT Bakti Insani akan terus mengembangkan model pembelajaran berbasis pengalaman, agar anak-anak tidak hanya tumbuh cerdas secara kognitif, sekaligus kuat secara spiritual dan emosional.
“Kami percaya, mendidik anak bukan hanya menyiapkan masa depan akademik, tapi juga menyiapkan hati mereka agar selalu dekat dengan Allah SWT,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, sekolah juga berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Pengalaman simbolik seperti manasik haji ini, meski sederhana, bisa menjadi bekal besar yang akan membentuk sikap religius anak di masa mendatang. Karena dari sinilah kecintaan pada ibadah mulai tumbuh dan berakar kuat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


