Sleman – Menulis bukanlah bakat, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari oleh siapa pun. Demikian disampaikan M. Husnaini, Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dalam webinar “Pelatihan Pra-Penulisan Buku Kisah-Kisah Menggugah Kader Mubaligh di Pelosok Negeri” yang diselenggarakan oleh DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Sabtu (14/6/2025).
“Menulis itu mudah dan bisa dipelajari. Syaratnya cuma satu, mulai menulis,” tegasnya.
Husnaini menjelaskan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa paling kompleks setelah berbicara, mendengar, dan membaca. Menulis bahkan disebutnya sebagai keterampilan puncak yang mencerminkan intelektualitas seseorang.
“Dengan menulis, seseorang telah memilih jalan menjadi manusia berguna. Ia belajar berpikir runtut, kritis, dan sistematis,” ujarnya.
Menurut doktor jebolan International Islamic University Malaysia (IIUM) itu, kemampuan berpikir sistematis sangat penting, terutama bagi kader IMM dan kalangan akademisi. Sayangnya, banyak orang yang mampu berbicara panjang lebar, namun kesulitan menuangkannya dalam tulisan.
Dalam pelatihan tersebut, Husnaini membagikan beberapa kiat praktis menulis yaitu, pertama tentukan objek tulisan secara jelas dan spesifik. Berikutnya adalah dengan memulai dari hal yang mudah dan kita kuasai. Terakhir, jangan mengedit sebelum tulisan selesai.
“Kesalahan umum penulis pemula adalah terlalu cepat mengedit sebelum selesai menulis. Akibatnya, tulisan tak pernah rampung,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menulis adalah aktivitas berbagi gagasan. Untuk itu, seorang penulis harus menjadi pembaca yang tekun agar punya banyak “isi” untuk dibagikan.
Mengakhiri pemaparannya, Husnaini menegaskan bahwa nelajar menulis itu seperti belajar berenang. “Tidak cukup hanya teori. Harus langsung praktik,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok, Foto: Freepik)


