Pasar Ngemplak, Simbol Kehidupan Sosial Tradisional yang Masih Bertahan

Sleman — Terletak di Padukuhan Kadiluwih, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Pasar Ngemplak masih berdiri sebagai pasar tradisional yang menjadi pusat interaksi sosial warga. Meski kecil dan jauh dari jalan raya, pasar ini menyimpan pesona khas pedesaan yang kian langka.

Pasar Ngemplak biasanya mulai buka sejak pagi dan kembali sepi menjelang pukul 10.00 WIB. Jumlah pedagang saat ini tidak sampai 20 orang, termasuk yang berjualan di sebuah pendopo kecil tanpa meja, hanya menggelar dagangan di lantai.

“Dulu cukup ramai, bisa sampai 50 pedagang. Sekarang tinggal sekitar 15 orang, kalau hari libur bisa 20,” ujar Bu Eko, mantan pengurus pasar, saat ditemui Minggu (15/6/2025). Ia menambahkan bahwa pasar ini dikelola secara mandiri oleh para pedagang.

Menurut Bu Eko, berkurangnya aktivitas pasar disebabkan oleh tiga hal. Pertama, semakin banyak warung rumahan yang menyediakan barang dagangan lengkap. Kedua, menjamurnya pedagang keliling (eyek) yang datang langsung ke rumah-rumah warga. Ketiga, meredupnya perdagangan salak, yang dulunya menjadi komoditas utama pasar ini.

Meskipun begitu, Pasar Ngemplak tetap menjadi tempat jual beli hasil bumi lokal seperti sayur mayur segar, pisang, singkong, tempe, ikan asin, bumbu dapur, dan jajanan tradisional. Bahkan, ada pola ekonomi sirkular sederhana di pasar ini.

“Misalnya, tetangga menjual singkong, dibeli tetangga lain, diolah menjadi jajanan, lalu dijual kembali di sini,” jelas Bu Eko.

Suasana pasar ini khas dan penuh keakraban. Penjual dan pembeli sudah saling mengenal, proses tawar-menawar berlangsung singkat, dan diselingi obrolan hangat seputar kabar warga. Interaksi seperti ini menjadi hal yang tak bisa ditemukan di pasar modern.

Warga berharap pasar ini terus bertahan sebagai ruang sosial sekaligus simbol kearifan lokal yang tetap hidup di tengah modernisasi. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: