Predator Alami: Cara Efektif Penanggulangan Hama Padi

Sleman – Akhir-akhir ini banyak petani mengalami gagal panen (puso), yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kekeringan, banjir, dan serangan hama dan penyakit. Hal itu menyebabkan hamparan sawah di wilayah Sleman barat banyak yang lagi produktif, dan dibiarkan nganggur oleh para petani, sehingga mereka merugi.

Menurut Prof. Dr Wagiman, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, berkembangnya berbagai hama padi dikarenakan adanya kesalahan dalam pemberantasan oleh petani itu sendiri.

“Kenapa salah? Karena petani dalam memberantas hama menggunakan insektisida sehingga predator dari hama tersebut ikut mati,” tuturnya ketika di temui di Joglo Kulon Jogja, Gesikan, Sumbersari, Moyudan, Selasa (17/6/2025).

Wagiman menjelaskan bahwa penggunaan pestisida itu berawal pada tahun 1940 pada perang Dunia II. Pada saat itu banyak wabah penyakit menular, maka sebagai pencegahnya digunakan DDT (Diklora, Difenil, Trikloroetana). Sebab DDT dirasa efektif digunakan oleh para petani sebagai obat pembasmi hama.

Namun, penggunaan DDT yang meluas berdampak negatif pada lingkungan. Maka pada tahun 1972 Pemerintah Indonesia melarang untuk digunakan lagi. Adanya larangan tersebut melahirkan pabrik pembuat pestisida.

“Karena banyaknya pestisida, dan insektisida yang diproduksi oleh pabrik sehingga petani melupakan predator alami tanaman padi,” ungkap Wagiman.

Petani lebih memilih yang instan, tetapi penggunaan insektisida tersebut menyebabla predator alami tanaman juga ikut mati, seperti laba-laba, kumbang, kepik permukaan air, belalang bertanduk panjang, dan capung.

“Predator alami hama sundep (penggerek batang padi) adalah berbagai jenis serangga,” imbuhnya.

Sedangkan predator dari hama tikus adalah burung hantu jenis serak Jawa (tyto alba), ular, biawak, dan burung elang. ” Sayangnya hewan-hewan tersebut sering diburu, untuk kepentingan sesaat,” ungkap Wagiman.

Akibat ekosistem yang tidak seimbang itu, berbagai jenis hama yang merusak tanaman semakin berkembang. Wagiman pun berharap kepada para petani untuk tidak terlalu sering menggunakan pestisida, karena predator alami lebih efektif untuk pemberantasan hama. (Giek/KIM Moyudan)

image_pdfimage_print
Bagikan: