Konvergensi ABCDE untuk Cegah Stunting

Sleman – Upaya penurunan angka stunting di Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan terus diperkuat melalui kegiatan Rembug Stunting yang dilaksanakan pada Senin (23/6) di Aula Kalurahan Margokaton. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam perencanaan dan penganggaran kegiatan penanganan stunting yang akan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan tahun 2026.

Kegiatan dihadiri oleh 60 peserta yang terdiri dari Panewu Seyegan, Ketua BPKal, pamong kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, kader kesehatan, pendamping desa, Karang Taruna, dan tokoh masyarakat.

Panewu Seyegan, Agung Indarto, dalam arahannya menyampaikan bahwa stunting merupakan program prioritas nasional yang tercantum dalam RPJMN 2020–2024. Ia menekankan bahwa stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi penerus.

“Generasi emas 2045 harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai generasi kita menjadi generasi lemas dan cemas. Penanganan stunting harus melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Agung juga menekankan pentingnya perhatian terhadap 1.000 hari pertama kehidupan anak, mulai dari masa pranikah, kehamilan, hingga pasca kelahiran. Ia menggarisbawahi pentingnya pola makan, pola asuh, konsumsi tablet tambah darah, suplemen untuk ibu hamil, dan pemberian makanan tambahan (PMT) yang bergizi.

Di akhir sambutannya, Agung mendorong agar intervensi stunting masuk dalam RKP 2026 dan dituangkan dalam APBKal. Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta intervensi lingkungan oleh kader sebagai langkah strategis dalam menciptakan generasi sehat dan cerdas.

Ketua BPKal Margokaton, Antonius Pranyoto, menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya penurunan stunting dan memastikan hasil rembug akan dikawal dalam forum Muskal dan diimplementasikan dalam program pembangunan tahun 2026.

Ahli Gizi dari Puskesmas Seyegan, Bety Nur Utami, memaparkan penyebab stunting yang meliputi kekurangan gizi kronis, pola asuh yang kurang tepat, imunisasi tidak lengkap, serta kurangnya pemberian ASI eksklusif. Ia menambahkan, stunting dapat memengaruhi perkembangan otak anak dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif di masa depan.

“Prevalensi stunting di Seyegan pada 2024 tercatat 7,08%, masih di atas target Kabupaten Sleman sebesar 6,52%. Seyegan menjadi kapanewon dengan angka stunting tertinggi ketiga di Sleman,” jelas Bety.

Ia mengusulkan lima langkah pencegahan stunting dengan rumus ABCDE yaitu, Aktif minum tablet tambah darah, Bumil rutin periksa kehamilan, Cukup konsumsi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, dan Eksklusif ASI dan buah

Setelah pemaparan, Parjio, Pendamping Desa, memandu diskusi kelompok untuk merumuskan usulan kegiatan penanganan stunting yang akan dimasukkan dalam RKP 2026.

Beberapa kesepakatan yang dihasilkan antara lain penyuluhan remaja putri tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan dini, pemberian tablet tambah darah, kelas ibu hamil dan pemberian PMT, kelas parenting, dan penguatan PHBS dan penertiban kawasan tanpa rokok (KTR) melalui pemasangan stiker, baliho, spanduk, dan penyuluhan

Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Berita Acara dan ditandatangani oleh perwakilan kader, bidan desa, Ketua BPKal, dan Karang Taruna. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

image_pdfimage_print
Bagikan: