Sleman – Pemerintahan Kalurahan Margorejo, menyambut program pemerintah untuk Penguatan Ketahanan Pangan di Tingkat Desa, dengan program unggulan: Menggalakan Budi Daya Tanaman Kelengkeng.
Saat ini terdapat sejumlah kebun kelengkeng milik perorangan di desa Margorejo yang sudah berproduksi. Untuk memperluas penyebarannya, Kalurahan Margorejo membagikan bibit kelengkeng ke lembaga padukuhan dan RT-RT, untuk ditanam di lahan yang terbengkalai. Bukan itu saja, setiap kepala keluarga juga ikut diberikan satu bibit kelengkeng beserta pupuk kandangnya. Di samping itu, untuk menyukseskan kelengkengisasi, Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Semar juga ditugasi mengelola kebun kelengkeng.
Direktur BUMKal Semar Margorejo, Heri K membenarkan bahwa perusahaannya diberi tanggung jawab untuk mengelola 540 pohon kelengkeng. Pohon tersebut ditanam di tanah kas desa seluas 2 hektare yang terletak di Padukuhan Kadirojo.
“Saat ini pohon kelengkeng yang dikelola BUMKal Semar baru berusia 7 bulan. Kami juga sudah menata Pasar Ngemplak yang direncanakan sebagai pusat pengepul kelengkeng,” ungkap Heri saat ditemui di lokasi, Selasa (24/6/2025).
Sementara, Kepala Unit Kebun, Supri Widodo mengatakan bahwa yang harus diwaspadai adalah musim kemarau mendatang. Kebun berada di atas sungai sehingga perlu dilakukan sistem penyiraman khusus.
“Selama menunggu kelengkeng berproduksi ditanam tanaman tumpang sari. Nampak baik pohon kelengkeng maupun tanaman tumpang sari kacang tanah tumbuh subur,” tandasnya.
Program Kelengkengisasi ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sleman dan pihak Keraton. Dalam kunjungan Gusti Marrel Suryokusumo, cucu Sultan Hamengkubuwono X, yang didampingi oleh KRT Suryo Satrianto, Penghageng Kawedanan Panitikismo Ngayodyakarto Hadiningrat pada akhir Mei 2025, atas nama Keraton mengijinkan penggunaan tanah kas, baik tanah Kasultanan (Sultan Ground), Kadipaten dan Kalurahan untuk program tersebut. Ia juga menawarkan dana keistimewaan serta membuka akses penjualan ekspor.
Kelengkeng, longan atau dimocarpus longan merupakan sejenis lerak-lerakan berasal dari Asia Tenggara, dikenal sebagai jenis buah meja yang bernilai ekonomis tinggi mengandung anti oksidan dan kaya dengan vitamin C. Diharapkan sekitar tiga atau empat tahun yang akan datang kawasan ini selain bisa menjadi sentra kelengkeng juga menambah alternatif tujuan wisata argo Yogyakarta. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)


